Orang yang mendengar nasehat baik, lalu mengatakan
“Ah, sok tahu!”
adalah orang yang stress karena kelemahan hidupnya,
tetapi belum ikhlas memulai perubahan yang akan membahagiakannya.
Dia adalah jiwa baik yang membutuhkan kasih sayang.
Senin, 25 Oktober 2010
Perhatikanlah awan-awan gelap
yang menutupi kecemerlangan matahari.
Anda memang tak lagi dapat melihat
keindahan dari birunya langit,
tetapi Anda masih dapat melihat
garis tepi keperakan yang mengitari
awan-awan gelap itu.
Belajarlah untuk selalu melihat hikmah
dan kemungkinan cemerlang di dalam
segelap-gelapnya keadaan.
Anda jiwa kecintaan Tuhan.
Tidak ada niat Tuhan
selain memuliakan Anda.
Mario Teguh
yang menutupi kecemerlangan matahari.
Anda memang tak lagi dapat melihat
keindahan dari birunya langit,
tetapi Anda masih dapat melihat
garis tepi keperakan yang mengitari
awan-awan gelap itu.
Belajarlah untuk selalu melihat hikmah
dan kemungkinan cemerlang di dalam
segelap-gelapnya keadaan.
Anda jiwa kecintaan Tuhan.
Tidak ada niat Tuhan
selain memuliakan Anda.
Mario Teguh
Selasa, 19 Oktober 2010
Perkutut Manggung
ketika saya lewat di rumah tetangga yang super mewah, saya melihat seekor perkutut manggung (bekicau) hur ketekung kung kung kung. rasanya hati ini ikut tentram, damai rasanya di desa yang jauh dari hiruk pikuk kota. selintas terbersit burung ini begitu istimewa, harganya saja sampai ratusan juta padahal dia manggung hanya hur ketekung kung kung kung. mungkin karena dia istiqamah sehingga untuk makanpun dia tak usah pergi ke pasar untuk cari kajang ijo, pelet dan sesekali kroto. si empunya burung sudah memberikan pelayanan istimewa pada si perkutut. kandang dibersihkan, tiap pagi dimandikan, dicarikan kandang spesial pula. sesekali perawatan kesehatan. ramuan kencur dan bawang putih untuk menjaga kualitas suara dan kesehatannya. lagi-lagi si burung manggung hur ketekung kung kung kung. ah kira-kira setiap harinya si perkutut memang seperti itu dan harus seperti itu melafatkan hur ketekung kung kung kung. dikala ia sakit, sehat, marah, lomba, bahagia, makan bahkan mau tidur dia mengucapkan lafat itu. super istiqamah. sesekali dilombakan selalu menang. makin mahal saja harga perkutut tetanggaku itu.ah perkutut itu mahal bukan karena sangkarnya tapi kualitas dia manggung hur ketekung kung kung kung. semakin istiqamah semakin berkualitas. saya belum pernah menjumpai perkutut bilang A,B,C dst. mungkin jika ada pastinya ia bukan perkutut tapi beo. perkutut tetanggaku itu kehidupannya serba terjamin.
seringkali saya melihat diri sendiri, berkata A pada suatu hari. berkata B, pada suatu saat, berkata c pagi hari. berkata Z di sore harinya. mana sebutan istiqamah yang pernah saya lakukan? bahkan sering plin plan untuk beberapa urusan dan menjurus-jurus ke arah munafik-munafik. mencampur adukkan yang bathil dan yang haq demi tercukupinya kebutuhan. mungkin saja kebutuhan takkan akan tercukupi terus, lalu kapan kebutuhan akan tercukupi. bukankah di dunia ini jika menurutkan nafsu tak ada selesainya kecuali nafsu tersebut mati bersama jasad ini? mungkin saja kita perlu menjadi perkutut manggung. siang malam kita sebut asmaNya, Allah Allah Allah. dalam keadaan apappun dan dimanapun kita tetap menekuri Allah Allah Allah. istiqamah dalam mnegingat padaNya. kita mungkin layaknya seekor perkutut. sekali lagi yang mahal itu perkututnya bukan sangkarnya. ruhani kita juga penting disamping selalu mengurusi kebutuhan jasad. ruhanilah yang kelak akan bertemu Dia, sedangkan jasad akan dikembalikan dari yang tiada kembali ke yang tiada. namun sering kita terjebak mempoles dan mencukupi kebutuhan jasad mati-matian dan melupakan kebutuhan rohani. dalam berbagai kesempatan ontran-ontran untuk mempercantik raga selalu mendapat tempat, sedangkan kecantikan sesungguhNya adalah bila kita dekat dengan Nya. mengasihi sesama, menjaga alam dan tunduk dibawah perintahNya. dalam berbagai kesempatan kita coba mengucapkan Allah Allah Allah. lalu pertanyaan selanjutnya adalah "Ya Allah kewajiban apa yang hendaknya saya lakukan dalam kondisi seperti ini?' jika sudah lakukan. mungkin jika begitu istiqamahnya Dia akan mendekati kita dan mencukupkan apapun terhadap kita. dan yang pasti kita akan bersamaNya besok pada suatu saat dalam surgNya. amin. wallahu a'lam.hur ketekung kung kung kung.
seringkali saya melihat diri sendiri, berkata A pada suatu hari. berkata B, pada suatu saat, berkata c pagi hari. berkata Z di sore harinya. mana sebutan istiqamah yang pernah saya lakukan? bahkan sering plin plan untuk beberapa urusan dan menjurus-jurus ke arah munafik-munafik. mencampur adukkan yang bathil dan yang haq demi tercukupinya kebutuhan. mungkin saja kebutuhan takkan akan tercukupi terus, lalu kapan kebutuhan akan tercukupi. bukankah di dunia ini jika menurutkan nafsu tak ada selesainya kecuali nafsu tersebut mati bersama jasad ini? mungkin saja kita perlu menjadi perkutut manggung. siang malam kita sebut asmaNya, Allah Allah Allah. dalam keadaan apappun dan dimanapun kita tetap menekuri Allah Allah Allah. istiqamah dalam mnegingat padaNya. kita mungkin layaknya seekor perkutut. sekali lagi yang mahal itu perkututnya bukan sangkarnya. ruhani kita juga penting disamping selalu mengurusi kebutuhan jasad. ruhanilah yang kelak akan bertemu Dia, sedangkan jasad akan dikembalikan dari yang tiada kembali ke yang tiada. namun sering kita terjebak mempoles dan mencukupi kebutuhan jasad mati-matian dan melupakan kebutuhan rohani. dalam berbagai kesempatan ontran-ontran untuk mempercantik raga selalu mendapat tempat, sedangkan kecantikan sesungguhNya adalah bila kita dekat dengan Nya. mengasihi sesama, menjaga alam dan tunduk dibawah perintahNya. dalam berbagai kesempatan kita coba mengucapkan Allah Allah Allah. lalu pertanyaan selanjutnya adalah "Ya Allah kewajiban apa yang hendaknya saya lakukan dalam kondisi seperti ini?' jika sudah lakukan. mungkin jika begitu istiqamahnya Dia akan mendekati kita dan mencukupkan apapun terhadap kita. dan yang pasti kita akan bersamaNya besok pada suatu saat dalam surgNya. amin. wallahu a'lam.hur ketekung kung kung kung.
Syukurilah pekerjaan Anda,
walau mungkin kecil dalam pandangan Anda
dan orang lain, dan kerjakanlah dengan keikhlasan
untuk menghasilkan.
...Jika Anda dikenal sebagai pribadi
yang melebihkan kontribusi, semua orang kuat akan
memperebutkan Anda untuk dipercayakan
pekerjaan-pekerjaan terbaik.
Itulah cara yang meninggikan jiwa jujur yang sederhana,
di atas mereka yang sangat berbakat tapi yang banyak alasan.
Mario Teguh
walau mungkin kecil dalam pandangan Anda
dan orang lain, dan kerjakanlah dengan keikhlasan
untuk menghasilkan.
...Jika Anda dikenal sebagai pribadi
yang melebihkan kontribusi, semua orang kuat akan
memperebutkan Anda untuk dipercayakan
pekerjaan-pekerjaan terbaik.
Itulah cara yang meninggikan jiwa jujur yang sederhana,
di atas mereka yang sangat berbakat tapi yang banyak alasan.
Mario Teguh
Senin, 18 Oktober 2010
Minggu, 17 Oktober 2010
"De?... de?... Selamat Ulang Tahun..." bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku. "Hmm..." aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.
Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.
Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me... Happy Birthday to Me.... Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resort di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.
"De... Ade kenapa?" tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir. Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku.. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku. "Selamat ulang tahun ya De?..." bisiknya lirih.
"Sebenarnya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini... tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut. Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur.. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.
"Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng... Nggak bagus ya de?" ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai. Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku. "Jelek ya de?? Maaf ya de?... aku nggak bisa ngasih apa-apa.... Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de?..." desahnya.
Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi... mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan. "A? lihat aku...," pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. "Tahu nggak... kamu ngasih aku banyaaaak banget," bisikku di antara isakan. "Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya.. Kamu ngasih aku dede?," senyumku sambil mengelus perutku. "Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama...." bisikku dalam cekat.
Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. "Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang," isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.
Rabbana... mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... .
Oleh: Ust. Anis matta
***
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti awan yang setia menebar hujan
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti mentari yang setia pada bumi
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti airmata pengungkap hatimu yang selalu sedia dalam tawa dan tangismu.....
Sungguh indah perilaku seorang mukmin, semuanya baik. Jika mendapat kebaikan ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan jika ditimpa musibah ia tetap bersabar dan itu juga baik baginya. Dan ini hanya akan terjadi pada orang mukmin.
La Tahzan...
Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.
Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me... Happy Birthday to Me.... Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resort di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.
"De... Ade kenapa?" tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir. Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku.. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku. "Selamat ulang tahun ya De?..." bisiknya lirih.
"Sebenarnya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini... tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut. Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur.. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.
"Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng... Nggak bagus ya de?" ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai. Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku. "Jelek ya de?? Maaf ya de?... aku nggak bisa ngasih apa-apa.... Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de?..." desahnya.
Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi... mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan. "A? lihat aku...," pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. "Tahu nggak... kamu ngasih aku banyaaaak banget," bisikku di antara isakan. "Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya.. Kamu ngasih aku dede?," senyumku sambil mengelus perutku. "Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama...." bisikku dalam cekat.
Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. "Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang," isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.
Rabbana... mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... .
Oleh: Ust. Anis matta
***
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti awan yang setia menebar hujan
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti mentari yang setia pada bumi
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti airmata pengungkap hatimu yang selalu sedia dalam tawa dan tangismu.....
Sungguh indah perilaku seorang mukmin, semuanya baik. Jika mendapat kebaikan ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan jika ditimpa musibah ia tetap bersabar dan itu juga baik baginya. Dan ini hanya akan terjadi pada orang mukmin.
La Tahzan...
Langganan:
Postingan (Atom)