Mengapakah teori
selalu lebih mudah dikatakan
daripada dilakukan?
Karena untuk mendapatkan
...pencerahan yang menjadi teori itu,
kita harus hidup melalui kesulitan
yang bisa sangat pedih.
Sesungguhnya,
nasehat-nasehat baik
yang kita sebut sebagai teori itu,
adalah kesimpulan dari jiwa-jiwa
yang diteroboskan oleh Tuhan
karena ketabahannya dalam
menghadapi kesulitan hidup.
Hayo!, mau bilang teori lagi ya?
Mario Teguh
Sabtu, 27 November 2010
Telah lama saya memeram
ide ini di pikiran, bahwa
Pria yang berhasil adalah pria
yang berhasil mengumpulkan uang
...lebih banyak daripada kemampuan
istrinya untuk belanja.
Dan
Wanita yang berhasil adalah wanita
yang berhasil menemukan pria itu.
Lalu
Wanita yang paling hebat
adalah dia yang membentuk
pria seadanya, menjadi pria yang
menghasilkan kehidupan yang
memuliakan keluarganya.
What do you think?
Mario Teguh
ide ini di pikiran, bahwa
Pria yang berhasil adalah pria
yang berhasil mengumpulkan uang
...lebih banyak daripada kemampuan
istrinya untuk belanja.
Dan
Wanita yang berhasil adalah wanita
yang berhasil menemukan pria itu.
Lalu
Wanita yang paling hebat
adalah dia yang membentuk
pria seadanya, menjadi pria yang
menghasilkan kehidupan yang
memuliakan keluarganya.
What do you think?
Mario Teguh
Senin, 22 November 2010
RAHASIA KEKUATAN SEL DAN ENERGI NUR ILAHI
Allah menciptakan manusia bermula dari sebutir sel, kemudian sel itu membelah diri menjadi dua, empat, delapan, enam belas, tigapuluh dua…… dan terus hingga jumlahnya menjadi milyaran. Allah memciptakan tubuh manusia dari kumpulan milyaran sel yang hidup. Setiap saat ada sel yang rusak dan mati kemudian digantikan dengan sel baru yang sehat dan segar. Sepanjang kehidupan kita akan terus menerus terjadi proses penggatian sel yang rusak dengan sel baru yang segar. Jika proses pergantian sel yang rusak dan mati ini terganggu maka tubuh kita akan menjadi sakit, tubuh akan dipenuhi dengan sel yang rusak dan mati. Apabila proses ini terus berlanjut dan proses penggantian sel yang rusak dengan sel baru terhalang atau berhenti sama sekali, maka tubuh akan menjadi rusak dan berlanjut dengan datangnya kematian.
Sel tubuh yang sehat dan kuat akan membentuk tubuh yang sehat dan kuat demikian pula sel tubuh yang sakit, lemah dan rusak akan membentuk tubuh yang lemah dan berpenyakitan. Untuk menjamin tubuh tetap sehat dan bugar kita harus menjamin bahwa proses penggantian sel yang lemah dan rusak atau mati didalam tubuh kita dengan sel baru yang sehat dan segar tetap berjalan dengan baik sepanjang masa. Sel yang sehat dan kuat mampu mengalahkan berbagai penyakit yang datang menyerang tubuh, dan menjaga agar organ tubuh tetap berfungsi dengan baik.
Tubuh yang memiliki sel lemah sangat rentan terhadap serangan berbagai penyakit degeneratif seperti darah tinggi, kolesterol, diabetes, gagal jantung, gagal ginjal, gangguan lambung, rematik, asam urat dan lain sebagainya. Tubuh juga sangat rentan terhadap serangan penyakit tumor, kanker, HIV dan penyakit harian seperti migrain, flu, batuk, letih, lesuh, tidak bergairah, dan cepat capek. Sel tubuh yang sehat dan kuat mampu mengatasi serangan berbagai penyakit seperti tersebut diatas.
Setiap sel hidup yang ada didalam tubuh kita memiliki energi yang disebut energi sel. Kuat tidaknya energi sel yang tersimpan didalam setiap sel menjadi tolok ukur bagi sehat atau tidaknya sel tubuh kita. Energi sel bisa dibangkitkan dan dipelihara dengan latihan tertentu. Guru Mufid seorang pakar Energi sel yang membuka sekolah informal pelatihan energi sel di Jogyakarta menjelaskan bahwa ada tiga cara untuk membangkitkan dan merawat energi sel didalam tubuh kita yaitu dengan latihan olah nafas (Daya Prana), menyerap energi alam (Reiki) dan melakukan amalan ilmu hikmah seperti puasa, wirid dan lain sebagainya. Dengan menggabungkan ketiga metode tersebut kita bisa membangkitkan dan merawat energi sel yang tersimpan dalam setiap sel tubuh kita dan mempercepat proses penggatian sel yang rusak atau mati dengan sel baru yang kuat, sehat dan segar.
Berbagai penyakit yang diderita manusia umumnya terjadi karena kekagagalan tubuh dalam mengatisipasi berbagai penyakit dan virus yang datang menyerang. Penyakit juga bisa muncul akibat kekacauan metabolisme tubuh, kegagalan fungsi organ tubuh seperti jantung, liver, ginjal, lambung, pankreas dan munculnya sel liar seperti kanker dan tumor. Jika tubuh terlanjur mendapat serangan berbagai penyakit diatas efek penyakit tersebut bisa dikurangi bahkan disembuhkan dengan menggunakan energi sel yang dibangkitkan didalam tubuh setiap orang.
Ada beberapa faktor yang amat berpengaruh terhadap energi sel didalam tubuh manusia antara lain fikiran dan perasaan, pola isirahat, pola makan, dan olah raga yang teratur. Berfikir dan merasa positip akan membangkitkan energi positip pada sel, berfikir dan merasa negatip akan menimbulkan kerusakan, kelemahan dan berakhir dengan matinya sel tersebut hal ini disebut juga sebagai munculnya energi negatif pada sel. Fikiran dan perasaan negatif antara lain merasa sedih, kecewa, dengki, jengkel, menderita, tertekan, terhina, dikucilkan. Fikiran dan perasaan positif antara lain, gembira, puas, ridho, ikhlas, bahagia, mulia dan dihargai, dihormati, dan lain sebagainya. Perhatikan apa fikiran dan perasaan yang menguasai fikiran dan hati anda semua itu akan berpengaruh pada energi yang muncul didalam sel tubuh anda.
Istirahat yang cukup, makan secukupnya dan tidak berlebihan diiringi dengan olah raga yang teratur dapat membangkitkan energi posisitip pada biosel. Sebaliknya kurang istirahat, makan tidak teratur dan berlebihan, serta tidak pernah berolah raga dapat menimbulkan kekacauan pada energi Sel. Sehingga sel tubuh menjadi lemah, sakit, rusak dan pada akhirnya akan mati. Seharusnya sel yang mati segera digantikan dengan sel baru yang sehat, kuat dan segar, namun karena sel tubuh yang ada dipenuhi oleh energi negatif maka proses penggantian dengan sel baru berjalan lambat atau malah gagal sama sekali. Jika hal ini dibiarkan terus menerus tubuh akan dipenuhi oleh sel yang rusak dan berbagai penyakit yang mendatangkan rasa tidak nyaman.
orang-meditasi
Banyak cara dilakukan orang untuk mempertahankan dan meningkatkan energi sel didalam tubuh masing masing antara lain dengan latihan olah nafas seperti senam taichi, waitankung, senam tera, meditasi, yoga, Reiki, membaca wirid dzikir, sholat khusuk, tadabbur Qur’an, puasa, dan lain sebagainya. Kondisi fisik yang lemah, sakit-sakitan , tidak memiliki gairah hidup, menggambarkan kondisi sel tubuh yang lemah. Dengan merubah pola fikir, perasaan dan melakukan latihan seperti diatas energi sel akan bangkit dan merubah kondisi fisik menjadi sehat, penuh gairah dan semangat hidup.
Membangkitkan energi sel dalam tubuh.
Tubuh manusia terdiri atas unsur fisik (materi) dan ruhani, setiap sel tubuh manusia juga terdiri atas unsur materi dan ruhani . Latihan fisik dan olah nafas akan menguatkan unsur fisik dari sel tubuh manusia, sedang do’a, wirid dan kalimat affirmasi yang dibaca akan menguatkan unsur rohani dari sel tersebut. Dengan menggabung latihan olah nafas, olah fikiran dengan do’a, wirid dan kalimat affirmasi, unsur fisik dan rohani sel tubuh akan menjadi kuat dan memancarkan energi yang disebut energi sel. Energi tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
Orang yang memiliki energi sel kuat dan prima insya Allah memiliki daya tahan yang tinggi terhadap serangan berbagai penyakit, dan memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri dan orang lain dari berbagai penyakit yang dideritanya. Unsur Fisik atau materi dari energi sel akan musnah bersamaan dengan hancurnya jasad ketika datangnya kematian. Sedangkan unsur rohani dari energi sel ini merupakan Energi Nur Ilahi yang akan tetap abadi mengikuti unsur Ruh manusia yang tetap hidup didalam barzakh, dan padang mahsyar kelak. Energi ini akan terlihat sebagai cahaya yang memancar dari tubuh orang mukmin pada hari berbangkit sebagaimana disebutkan dalam surat At Tahrim ayat 8 :
Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (At Tahrim 8 )
Unsur rohani (spiritual) dari Energi sel merupakan Nur Ilahi yang bersifat kekal dan tetap menyertai Ruh kemanapun ia pergi. Setelah datang kematian Ruh masih terus melanjutkan perjalanan hidupnya dialam barzakh, kemudian pada hari berbangkit akan dikumpulkan dipadang Mahsyar dan setelah dihisab terus melanjutkan perjalananya menyeberangi lautan api Neraka yang amat panas, selanjutnya berdiam di taman syurga yang tinggi, atau akan tetap tinggal didalam api Neraka yang amat panas. Energi Nur Ilahi melindungi orang yang bersangkutan dalam perjalanan panjang tersebut. Itulah energi yang kekal dan abadi sebagaimana disebutkan dalam surat an Nahl ayat 96 :
Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An Nahl 96)
Guru Mufid seorang pakar kesehatan di Jogyakarta telah menemukan formulasi pelatihan untuk membangkitkan energi sel ini. Beliau menggabungkan metode meditasi olah nafas, Reiki dan, ilmu hikmah yang memanfatkan do’a serta wirid untuk membangkitkan energi tersebut dan menamakan metode tersebut dengan QUANTUM PSIKOTERAPY ILLAHI TRAINING (QPIT). Metode ini sangat mudah dipelajari karena sesuai dengan akal sehat, alamiah juga tuntunan agama dan sudah dikenalkan ke masyarakat di Yogya dan sekitarnya sejak tahun 2003. Sampai sekarang sekolah informal olah jiwa dan energi sel QUANTUM PSIKOTERAPY ILLAHI TRAINING (QPIT). yang beliau dirikannya sudah mendidik banyak masyarakat dari berbagai profesi mulai dokter, psikolog, pengacara, ulama, pengusaha, pegawai negeri, dosen, guru, karyawan swasta, mahasiswa hingga anak SMP yang tersebar diberbagai kota di Indonesia. Ilmu ini merupakan inti sari dari 3 ilmu utama dalam dunia metafisik yaitu prana, reiki dan ilmu hikmah. Oleh karena itu sangat cocok dipelajari oleh praktisi keilmuan yang belum menemukan format keilmuannya ,metode ini sangat mudah dipelajari .
http://www.fadhilza.com/2009/12/tadabbur/rahasia-kekuatan-sel-dan-energi-nur-ilahi.html#more-901
Allah menciptakan manusia bermula dari sebutir sel, kemudian sel itu membelah diri menjadi dua, empat, delapan, enam belas, tigapuluh dua…… dan terus hingga jumlahnya menjadi milyaran. Allah memciptakan tubuh manusia dari kumpulan milyaran sel yang hidup. Setiap saat ada sel yang rusak dan mati kemudian digantikan dengan sel baru yang sehat dan segar. Sepanjang kehidupan kita akan terus menerus terjadi proses penggatian sel yang rusak dengan sel baru yang segar. Jika proses pergantian sel yang rusak dan mati ini terganggu maka tubuh kita akan menjadi sakit, tubuh akan dipenuhi dengan sel yang rusak dan mati. Apabila proses ini terus berlanjut dan proses penggantian sel yang rusak dengan sel baru terhalang atau berhenti sama sekali, maka tubuh akan menjadi rusak dan berlanjut dengan datangnya kematian.
Sel tubuh yang sehat dan kuat akan membentuk tubuh yang sehat dan kuat demikian pula sel tubuh yang sakit, lemah dan rusak akan membentuk tubuh yang lemah dan berpenyakitan. Untuk menjamin tubuh tetap sehat dan bugar kita harus menjamin bahwa proses penggantian sel yang lemah dan rusak atau mati didalam tubuh kita dengan sel baru yang sehat dan segar tetap berjalan dengan baik sepanjang masa. Sel yang sehat dan kuat mampu mengalahkan berbagai penyakit yang datang menyerang tubuh, dan menjaga agar organ tubuh tetap berfungsi dengan baik.
Tubuh yang memiliki sel lemah sangat rentan terhadap serangan berbagai penyakit degeneratif seperti darah tinggi, kolesterol, diabetes, gagal jantung, gagal ginjal, gangguan lambung, rematik, asam urat dan lain sebagainya. Tubuh juga sangat rentan terhadap serangan penyakit tumor, kanker, HIV dan penyakit harian seperti migrain, flu, batuk, letih, lesuh, tidak bergairah, dan cepat capek. Sel tubuh yang sehat dan kuat mampu mengatasi serangan berbagai penyakit seperti tersebut diatas.
Setiap sel hidup yang ada didalam tubuh kita memiliki energi yang disebut energi sel. Kuat tidaknya energi sel yang tersimpan didalam setiap sel menjadi tolok ukur bagi sehat atau tidaknya sel tubuh kita. Energi sel bisa dibangkitkan dan dipelihara dengan latihan tertentu. Guru Mufid seorang pakar Energi sel yang membuka sekolah informal pelatihan energi sel di Jogyakarta menjelaskan bahwa ada tiga cara untuk membangkitkan dan merawat energi sel didalam tubuh kita yaitu dengan latihan olah nafas (Daya Prana), menyerap energi alam (Reiki) dan melakukan amalan ilmu hikmah seperti puasa, wirid dan lain sebagainya. Dengan menggabungkan ketiga metode tersebut kita bisa membangkitkan dan merawat energi sel yang tersimpan dalam setiap sel tubuh kita dan mempercepat proses penggatian sel yang rusak atau mati dengan sel baru yang kuat, sehat dan segar.
Berbagai penyakit yang diderita manusia umumnya terjadi karena kekagagalan tubuh dalam mengatisipasi berbagai penyakit dan virus yang datang menyerang. Penyakit juga bisa muncul akibat kekacauan metabolisme tubuh, kegagalan fungsi organ tubuh seperti jantung, liver, ginjal, lambung, pankreas dan munculnya sel liar seperti kanker dan tumor. Jika tubuh terlanjur mendapat serangan berbagai penyakit diatas efek penyakit tersebut bisa dikurangi bahkan disembuhkan dengan menggunakan energi sel yang dibangkitkan didalam tubuh setiap orang.
Ada beberapa faktor yang amat berpengaruh terhadap energi sel didalam tubuh manusia antara lain fikiran dan perasaan, pola isirahat, pola makan, dan olah raga yang teratur. Berfikir dan merasa positip akan membangkitkan energi positip pada sel, berfikir dan merasa negatip akan menimbulkan kerusakan, kelemahan dan berakhir dengan matinya sel tersebut hal ini disebut juga sebagai munculnya energi negatif pada sel. Fikiran dan perasaan negatif antara lain merasa sedih, kecewa, dengki, jengkel, menderita, tertekan, terhina, dikucilkan. Fikiran dan perasaan positif antara lain, gembira, puas, ridho, ikhlas, bahagia, mulia dan dihargai, dihormati, dan lain sebagainya. Perhatikan apa fikiran dan perasaan yang menguasai fikiran dan hati anda semua itu akan berpengaruh pada energi yang muncul didalam sel tubuh anda.
Istirahat yang cukup, makan secukupnya dan tidak berlebihan diiringi dengan olah raga yang teratur dapat membangkitkan energi posisitip pada biosel. Sebaliknya kurang istirahat, makan tidak teratur dan berlebihan, serta tidak pernah berolah raga dapat menimbulkan kekacauan pada energi Sel. Sehingga sel tubuh menjadi lemah, sakit, rusak dan pada akhirnya akan mati. Seharusnya sel yang mati segera digantikan dengan sel baru yang sehat, kuat dan segar, namun karena sel tubuh yang ada dipenuhi oleh energi negatif maka proses penggantian dengan sel baru berjalan lambat atau malah gagal sama sekali. Jika hal ini dibiarkan terus menerus tubuh akan dipenuhi oleh sel yang rusak dan berbagai penyakit yang mendatangkan rasa tidak nyaman.
orang-meditasi
Banyak cara dilakukan orang untuk mempertahankan dan meningkatkan energi sel didalam tubuh masing masing antara lain dengan latihan olah nafas seperti senam taichi, waitankung, senam tera, meditasi, yoga, Reiki, membaca wirid dzikir, sholat khusuk, tadabbur Qur’an, puasa, dan lain sebagainya. Kondisi fisik yang lemah, sakit-sakitan , tidak memiliki gairah hidup, menggambarkan kondisi sel tubuh yang lemah. Dengan merubah pola fikir, perasaan dan melakukan latihan seperti diatas energi sel akan bangkit dan merubah kondisi fisik menjadi sehat, penuh gairah dan semangat hidup.
Membangkitkan energi sel dalam tubuh.
Tubuh manusia terdiri atas unsur fisik (materi) dan ruhani, setiap sel tubuh manusia juga terdiri atas unsur materi dan ruhani . Latihan fisik dan olah nafas akan menguatkan unsur fisik dari sel tubuh manusia, sedang do’a, wirid dan kalimat affirmasi yang dibaca akan menguatkan unsur rohani dari sel tersebut. Dengan menggabung latihan olah nafas, olah fikiran dengan do’a, wirid dan kalimat affirmasi, unsur fisik dan rohani sel tubuh akan menjadi kuat dan memancarkan energi yang disebut energi sel. Energi tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
Orang yang memiliki energi sel kuat dan prima insya Allah memiliki daya tahan yang tinggi terhadap serangan berbagai penyakit, dan memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri dan orang lain dari berbagai penyakit yang dideritanya. Unsur Fisik atau materi dari energi sel akan musnah bersamaan dengan hancurnya jasad ketika datangnya kematian. Sedangkan unsur rohani dari energi sel ini merupakan Energi Nur Ilahi yang akan tetap abadi mengikuti unsur Ruh manusia yang tetap hidup didalam barzakh, dan padang mahsyar kelak. Energi ini akan terlihat sebagai cahaya yang memancar dari tubuh orang mukmin pada hari berbangkit sebagaimana disebutkan dalam surat At Tahrim ayat 8 :
Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (At Tahrim 8 )
Unsur rohani (spiritual) dari Energi sel merupakan Nur Ilahi yang bersifat kekal dan tetap menyertai Ruh kemanapun ia pergi. Setelah datang kematian Ruh masih terus melanjutkan perjalanan hidupnya dialam barzakh, kemudian pada hari berbangkit akan dikumpulkan dipadang Mahsyar dan setelah dihisab terus melanjutkan perjalananya menyeberangi lautan api Neraka yang amat panas, selanjutnya berdiam di taman syurga yang tinggi, atau akan tetap tinggal didalam api Neraka yang amat panas. Energi Nur Ilahi melindungi orang yang bersangkutan dalam perjalanan panjang tersebut. Itulah energi yang kekal dan abadi sebagaimana disebutkan dalam surat an Nahl ayat 96 :
Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An Nahl 96)
Guru Mufid seorang pakar kesehatan di Jogyakarta telah menemukan formulasi pelatihan untuk membangkitkan energi sel ini. Beliau menggabungkan metode meditasi olah nafas, Reiki dan, ilmu hikmah yang memanfatkan do’a serta wirid untuk membangkitkan energi tersebut dan menamakan metode tersebut dengan QUANTUM PSIKOTERAPY ILLAHI TRAINING (QPIT). Metode ini sangat mudah dipelajari karena sesuai dengan akal sehat, alamiah juga tuntunan agama dan sudah dikenalkan ke masyarakat di Yogya dan sekitarnya sejak tahun 2003. Sampai sekarang sekolah informal olah jiwa dan energi sel QUANTUM PSIKOTERAPY ILLAHI TRAINING (QPIT). yang beliau dirikannya sudah mendidik banyak masyarakat dari berbagai profesi mulai dokter, psikolog, pengacara, ulama, pengusaha, pegawai negeri, dosen, guru, karyawan swasta, mahasiswa hingga anak SMP yang tersebar diberbagai kota di Indonesia. Ilmu ini merupakan inti sari dari 3 ilmu utama dalam dunia metafisik yaitu prana, reiki dan ilmu hikmah. Oleh karena itu sangat cocok dipelajari oleh praktisi keilmuan yang belum menemukan format keilmuannya ,metode ini sangat mudah dipelajari .
http://www.fadhilza.com/2009/12/tadabbur/rahasia-kekuatan-sel-dan-energi-nur-ilahi.html#more-901
TEHNIK PENGOLAHAN NAPAS DZIKRULLAH
Oleh Fadhil ZA
Bernapas adalah kebutuhan utama setiap mahluk hidup. Manusia bisa bertahan tidak makan dan minum sampai beberapa hari, namun tidak demikian halnya dengan bernapas. Umumnya manusia hanya mampu menahan napas paling lama selama satu menit. Orang - orang tertentu seperti penyelam, penyanyi atau Qori’ mampu bertahan lebih lama lagi hingga 2 s/d 5 menit. Tentu saja mereka bisa menahan napas sedemikian lama setelah melalui pelatihan dalam waktu yang cukup lama. Otak dan otot jantung manusia akan mengalami kerusakan jika tidak mendapat oxigen lebih dari 5 menit.
Tehnik pengendalian napas diperlukan untuk meningkatkan konsentrasi dan stamina. Perenang, pelari cepat, pelari marathon, petinju, pesilat, penyanyi semuanya mempunyai tehnik pengendalian napas sendiri dibidangnya. Tehnik pernapasan perenang tentu tidak sama dengan penyanyi demikian pula tehnik pernapasan pelari cepat tentu tidak sama dengan tehnik pernapasan pelari marathon. Tehnik pengolahan napas untuk membangkitkan tenaga dalam tentu tidak sama dengan tehnik pengolahan napas seorang penyanyi. Meditasi, yoga, thaici, pelatihan tenaga dalam, penyanyi semua mempunyai tehnik pernapasan sendiri dibidangnya.
Bagaimana tehnik pengolahan napas dapat meningkatkan konsentrasi dan stamina dapat kita lihat dalam contoh kehidupan sehari hari. Seorang ibu yang harus memasukan benang kelubang jarum akan lebih mudah memasukan benang tersebut jika dilakukan sambil menahan napas. Demikian pula seorang penembak atau pemanah, ia akan lebih berkonsentrasi jika saat membidik dilakukan sambil menahan napas. Kalau anda naik ayunan atau kora-kora di Ancol , pada saat ayunan turun anda disarankan untuk berteriak atau menahan napas, jika anda tidak menahan napas atau berteriak niscaya dalam waktu singkat anda akan muntah dan mabuk. Olah ragawan angkat berat juga dianjurkan untuk menahan napas ketika sedang mengangkat beban, jika ia tidak melakukan hal tersebut bisa berakibat serius bagi tubuhnya.
Pengolahan napas dzikrullah
Dzikir mengingat Allah dan berdo’a pada-Nya adalah kegiatan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Allah sangat mencintai orang yang banyak berdo’a dan selalu berdzikir mengingat-Nya. Kendala utama dalam melakukan kegiatan dzikir dan do’a adalah rasa mengantuk, tidak bisa konsentrasi, perasaan bosan dan kaki semutan atau kram, sehingga jarang orang yang sanggup melakukan kegiatan dzikir secara rutin dalam waktu yang lama. Dengan tehnik pengaturan napas yang tepat dan benar semua kendala tersebut bisa diatasi sehingga anda bisa melakukan kegiatan dzikir dan do’a dalam waktu yang cukup lama tanpa merasa mengatuk, bosan atau kaki semutan. Kegiatan dzikir dan do’a terasa mengasyikan dan menyenangkan , sehingga anda sanggup melakukan kegiatan tersebut secara rutin setiap hari.
Dzikir bisa dilakukan dengan menyebut Asmaulhusna, kalimat hasballah , syahadat atau sholawat Nabi diiringi dengan do’a yang diambil dari ayat Qur’an , hadist atau do’a dalam bahasa ibu masing masing. Selama melakukan dzikir dan do’a napas diatur sedemikian rupa sehingga ketika menarik napas paru paru terisi penuh sempurna dan ketika menghembuskan napas paru paru kosong sempurna pula. Ketika menghirup udara kita menghirup oxigen dari udara memenuhi paru-paru selanjutnya oxigen tersebut diangkut oleh darah keseluruh tubuh memenuhi kebutuhan seluruh sel ditubuh kita. Disamping oxigen kita juga menghirup energi kehidupan atau energi hayati yang biasa juga disebut energi Prana, Ki, atau Chi. Energi hayati diserap oleh otak besar kemudian dialirkan melalui saluran saraf ditulang belakang keseluruh tubuh.
Tarik napas perlahan lahan sambil membaca kalimat asmaulhusna misalnya “ya Rahman” , setelah paru paru penuh dengan udara tahan napas dengan mengeraskan otot perut sambil tetap membaca kalimat asmaulhusna tersebut, tahan selama yang bisa dilakukan, kemudian hembuskan napas sambil berdo’a misalnya :
”birohmatika ya arhamarrohimin irhamna” .
Selama menarik, menahan dan menghembuskan napas fikiran dan hati dikonsentrsasikan serta fokus pada kalimat dzikir dan do’a yang dibaca. Rasakan juga energi hayati yang diserap otak besar dan dialirkan pada saluran syaraf di tulang punggung keseluruh tubuh. Ini hanya salah satu contoh dari dzikir pernapasan asmaulhusna. Dalam pelatihan yang kami adakan anda akan dilatih melakukan tehnik pernapasan dengan beberapa kalimat asmaulhusna dan manfaat yang didapat dari dzikir tersebut.
Tehnik yang sama bisa dilakukan untuk dzikir tadabbur Qur’an. Dimana ketika menarik napas bacalah kalimah syahadat ,salawat Nabi , atau kalimat hasballah. Selanjutnya ketika menahan napas baca ayat Qur’an tertentu yang akan ditadabburi. Ketika menghembuskan napas baca do’a yang sesuai dengan ayat yang anda baca ketika menahan napas tadi. Semua metode ini akan lebih jelas lagi jika anda mengikuti pelatihan yang kami adakan. Anda bisa menterapi diri anda dengan ayat Qur’an yang anda baca, sehingga ahlak dan pribadi anda akan terbentuk oleh Al-Qur’an. Terapi dzikir tadabur Qur’an bermanfaat untuk menghilangkan berbagai sifat buruk dan negatif dari diri anda, menambah kedekatan anda dengan Allah pencipta alam semesta, meningkatkan iman dan taqwa, menyiapkan perbekalan untuk kehidupan akhirat membangkitkan semangat kerja dan optimisme menghadapi berbagai masalah kehidupan, dan banyak lagi manfaat lainnya.
Pengolahan napas dalam sholat
Dewasa ini banyak kita temui orang yang mengerjakan sholat hanya sekedar memenuhi kewajiban saja, mereka mengerjakan sholat hanya sebagai ritual rutin yang kadangkala dilakukan dengan setengah hati. Berdiri , rukuk dan sujud kadangkala mereka lakukan dengan tergesa gesa tanpa ,memperhatikan tu’maninah yang diajarkan Rasululullah.
Dengan pengaturan napas yang tepat dan benar dan memahami detiap ayat dan kalimat yang dibaca dalam sholat diharapkan anda bisa melakukan sholat dengan tenang, tidak tergesa gesa dan sesuai dengan tu’maninah yang diajarkan Rasulullah. Pada prinsipnya selama sholat lakukanlah pernapasan dengan perlahan dan sempurna. Ketika menarik napas paru paru diisi penuh sempurna, dan ketika menghembuskan napas paru paru kosong sempurna. Dengan pernapasan yang dilakukan secara perlahan dan tenang anda akan terhindar dari sifat tergesa gesa dalam sholat.
Pernapasan sempurna akan meningkatkan konsentrasi anda fokus pada ayat yang dibaca, disamping itu juga meningkatkan kadar oxigen yang diserap darah dari paru paru. Peningkatan kadar oxigen dan gerakan yang tenang akan memberikan relaksasi dan meningkatkan kesegaran tubuh. Selama dan selesai sholat anda akan merasakan kesegaran yang mengalir disekujur tubuh. Insya Allah sholat akan dirasakan sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan dan mengasyikan sehingga sholat tidak lagi dirasakan sebagai beban tapi sholat sudah dirasakan sebagai suatu kebutuhan.
Dalam pelatihan sholat khusuk yang kami adakan disamping tehnik pengolahan napas anda juga akan dilatih untuk menyamakan lisan , fikiran dan hati didalam sholat sehingga anda bisa mengerjakan sholat dengan khusuk. Kebanyakan orang tidak bisa khusuk dalam sholat mulutnya mengatakan A, fikirannya membayangkan B dan hatinya merasakan C. Padahal diluar sholat mereka sudah biasa mengalami kondisi khusuk, misalnya ketika mereka sedang berbicara dengan seseorang melalui handphone pasti yang diucapkan, dibayangkan oleh fikiran dan dirasakan hatinya sama.
Dzikir Pernapasan
Untuk membuka pintu rezeki , kemuliaan dan kelapangan hidup lakukanlah dzikir pernapasan tadabbur Qur’an sebagai berikut dibawah ini. Waktunya bisa dipilih sesudah sholat, pagi hari , sore hari atau menjelang tidur. Usahakan memakai pakaian yang longgar , sehingga tidak mengganggu ketika melakukan kegiatan olah napas.
Ketika menarik napas baca kalimat hasbalah :
Hasbiayallahu wani’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashir. Wakafa billahi waliyya , wakafa billahi syahida, wakafa billahi wakiila, wakafa billahi nashiroo
Cukup Allah bagiku Dia sebaik baik pelindung, sebaik baik pemimpin dan sebaiki baik penolong. Cukup Allah sebagai pemimpin, cukup Allah sebagai saksi, cukup Allah sebagai pelindung, cukup Allah sebagai penolong.
Bisa juga dibaca dua kalimah sahadat dan sholawat seperti pada saat duduk tahiyat akhir.
1. Ketika menahan napas baca salah satu dari ayat Qur’an sebagai berikut didalam hati :
AL – ISRAAK AYAT 30
Inna robbaka yabsuthu rizqo limayyasyaa’u wa yaqdir Innahuu kaana bi ibadihi khobiirom bashiiro
Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
(Al Israak 30)
AL ANKABUT 62
Allahu yabsuthu rizqo limayyasyaa’u wa yaqdir Innallaha bikulli syai’in aliim
Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(Al Ankabut 62)
AS SYURA 12
Lahuu maqooliidus samaawaati wal ardhi . Yabsuthur rizqo limayyasyaa’u wayaqdir. Innahuu bikulli syai’in alimm
Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.(As-Syuraa 12)
Ketika menghembuskan napas baca Do’a tadabbur :
Ya Allah kepunyaan Engkaulah perbendaharaan kekayaan dilangit dan bumi , Engkaulah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Engkau kehendaki hamba mohon padaMu, lapangkan rezeki hamba (kami) selapang lapangnya, jangan Kau sempitkan rezeki hamba (kami), jangan Kau sempitkan hidup hamba (kami), Engkau maha mengetahui dan maha melihat keadaan kami, perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah.
Manfaat nya:
• Membuka jalan dan pintu rezeki bagi orang yang dalam kesempitan hidup
• Melindungi diri dari kefakiran dan kemiskinan
• Hidup berkecukupan dan selalu terpenuhi hajat dan kebutuhannya
2. Ketika menahan napas baca surat Fathir ayat 2, sebagai berikut didalam hati :
Maa yaftahillahu linnaasi mirrohmatin falaa mumsika laha, wamaa yumsik falaa mursilalahu mimbad’dihi wahuwal azizul hakim
Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(Fathir 2)
Ketika menghembuskan napas baca Do’a tadabbur :
Ya Allah apa –apa Rahmat yang Kau bukakan bagi kami tidak ada seorangpun yang dapat mencegahnya, dan apa saja yang Kau tahan dari kami tidak seorangpun yang sanggup membukakannya. Ya Allah bukakan bagi kami pintu rahmat dari sisiMu dengan seluas luasnya, jangan Kau tahan Rahmat dan karuniaMu bagi kami ya Allah, Engkau maha Perkasa lagi maha Bijaksana, perkenankan permohonan kami ini ya Allah.
Manfaatnya antara lain :
• Mendapat rahmat dan karunia dari Allah
• Mendapat kelapangan hidup, dan terpenuhi semua hanjat dan kebutuhannya
• Terpelihara dari fitnah dan kejahatan orang yang dengki
• Terpelihara dari kefakiran, kemiskinan dan kesempitan hidup
3 . Ketika menahan napas baca surat Ibrahim ayat 32 :
Allahulladzii kholaqossamawaati wal ardho wa anzala minassamaa’i maa anfa akhroja bihii minaatsamarooti rizqollakum . wa sakhorolakumul fulka litajriya fil bahri bi amrihi . wa sakhorolakumul anhaar
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. (Ibrahim 32)
Ketika menghembuskan napas baca do’a tadabbur:
Segala puji bagiMu ya Allah yang telah menjadikan langit dan bumi dan menurunkan hujan bagi kami dari langit , segala puji bagiMu ya Allah yang telah mengeluarkan bagi kami bermacam macam buah buahan sebagai rezeki , dan telah menundukan bahtera yang berlayar dilaut , dan sungai sungai untuk keperluan kami. Ya Allah bukakan bagi kami pintu rezeki dari segala penjuru yang Kau berkahi , bukakan bagi kami pintu rezeki dari langit dan bumi , lapangkan hidup kami selapang lapangnya perkenankan permohonan kami ini ya Allah
Manfaatnya antara lain :
Menamankan kesadaran tentang kebesaran dan kekuasaan Allah
Menamankan kesadaran bahwa Allah yang memberi kehidupan bagi segala mahluk yang ada dilangit dan bumi
Memberi kesadaran bahwa Allahlah yang memberi rezeki pada sekalian mahluk yang ada dilangit dan bumi
Mendapat kecukupan dan kelapangan hidup serta rezeki berlimpah dari sisi Allah
Terpelihara dari kefakiran , kemiskinan dan kemelaratan hidup
4 Ketika menahan napas baca surat Al Israak ayat 70 :
Walaqod karamna bani aadama wahamalnaahum fil barri wal bahri warozaqnaahum minathoyyibaati wa fadholnaahum alaa katsirom mimman kholaqnaa tafdhiilaa
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
(Al Israak 70)
Ketika menghembuskan napas baca do’a tadabbur sebagai berikut didalam hati :
Ya Allah Engkau telah memuliakan bani adam dan mengangkut mereka didarat dan dilautan, dan Kau beri mereka rezeki dari yang baik baik, dan Kau lebihkan mereka dari kebanyakan mahluk yang kau ciptakan. Ya Allah kami mohon padaMu beri kami kemuliaan dan rezeki yang berkah dari sisiMu, beri kami kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang kau ciptakan, Karuniai kami pemberian sebagaimana yang telah kau janjikan dalam Qur’anMu yang agung ini ya Allah, perkenankanlah permohonan kami ya Allah.
Manfaatnya antara lain:
Menanamkan kesadaran betapa Allah telah memuliakan manusia lebih dari mahluk ciptaannya yang lain
Menamankan kesadaran bahwa Allah yang memberi rezeki dan kemuliaan kepada manusia dan mahluk lainnya
Mendapat kemuliaan dan rezeki yang berkah dari sisi Allah
Mendapat kemudahan dan kelapangan hidup
Terpelihara dari kefakiran, kemiskinan dan kemelaratan hidup
Agar anda dapat melaksanakan dzikir pernapasan tadabbur Qur’an ini dengan tepat dan benar , kami sarankan agar anda mengikuti pelatihan yang kami adakan sesuai jadwal di blog ini.
Insya Allah anda bisa menterapi diri anda untuk memperbaiki mutu kehidupan, meraih sukses dan kemenangan serta mendekatkan diri pada Allah.
http://www.fadhilza.com/2010/05/tadabbur/dzikir-pernapasan-tadabbur-qur%E2%80%99an-untuk-membuka-pintu-rezeki-kelapangan-dan-kemuliaan-hidup.html#more-1190
http://www.fadhilza.com/2010/04/tadabbur/tehnik-pengolahan-napas-dzikrullah.html#more-1156
Oleh Fadhil ZA
Bernapas adalah kebutuhan utama setiap mahluk hidup. Manusia bisa bertahan tidak makan dan minum sampai beberapa hari, namun tidak demikian halnya dengan bernapas. Umumnya manusia hanya mampu menahan napas paling lama selama satu menit. Orang - orang tertentu seperti penyelam, penyanyi atau Qori’ mampu bertahan lebih lama lagi hingga 2 s/d 5 menit. Tentu saja mereka bisa menahan napas sedemikian lama setelah melalui pelatihan dalam waktu yang cukup lama. Otak dan otot jantung manusia akan mengalami kerusakan jika tidak mendapat oxigen lebih dari 5 menit.
Tehnik pengendalian napas diperlukan untuk meningkatkan konsentrasi dan stamina. Perenang, pelari cepat, pelari marathon, petinju, pesilat, penyanyi semuanya mempunyai tehnik pengendalian napas sendiri dibidangnya. Tehnik pernapasan perenang tentu tidak sama dengan penyanyi demikian pula tehnik pernapasan pelari cepat tentu tidak sama dengan tehnik pernapasan pelari marathon. Tehnik pengolahan napas untuk membangkitkan tenaga dalam tentu tidak sama dengan tehnik pengolahan napas seorang penyanyi. Meditasi, yoga, thaici, pelatihan tenaga dalam, penyanyi semua mempunyai tehnik pernapasan sendiri dibidangnya.
Bagaimana tehnik pengolahan napas dapat meningkatkan konsentrasi dan stamina dapat kita lihat dalam contoh kehidupan sehari hari. Seorang ibu yang harus memasukan benang kelubang jarum akan lebih mudah memasukan benang tersebut jika dilakukan sambil menahan napas. Demikian pula seorang penembak atau pemanah, ia akan lebih berkonsentrasi jika saat membidik dilakukan sambil menahan napas. Kalau anda naik ayunan atau kora-kora di Ancol , pada saat ayunan turun anda disarankan untuk berteriak atau menahan napas, jika anda tidak menahan napas atau berteriak niscaya dalam waktu singkat anda akan muntah dan mabuk. Olah ragawan angkat berat juga dianjurkan untuk menahan napas ketika sedang mengangkat beban, jika ia tidak melakukan hal tersebut bisa berakibat serius bagi tubuhnya.
Pengolahan napas dzikrullah
Dzikir mengingat Allah dan berdo’a pada-Nya adalah kegiatan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Allah sangat mencintai orang yang banyak berdo’a dan selalu berdzikir mengingat-Nya. Kendala utama dalam melakukan kegiatan dzikir dan do’a adalah rasa mengantuk, tidak bisa konsentrasi, perasaan bosan dan kaki semutan atau kram, sehingga jarang orang yang sanggup melakukan kegiatan dzikir secara rutin dalam waktu yang lama. Dengan tehnik pengaturan napas yang tepat dan benar semua kendala tersebut bisa diatasi sehingga anda bisa melakukan kegiatan dzikir dan do’a dalam waktu yang cukup lama tanpa merasa mengatuk, bosan atau kaki semutan. Kegiatan dzikir dan do’a terasa mengasyikan dan menyenangkan , sehingga anda sanggup melakukan kegiatan tersebut secara rutin setiap hari.
Dzikir bisa dilakukan dengan menyebut Asmaulhusna, kalimat hasballah , syahadat atau sholawat Nabi diiringi dengan do’a yang diambil dari ayat Qur’an , hadist atau do’a dalam bahasa ibu masing masing. Selama melakukan dzikir dan do’a napas diatur sedemikian rupa sehingga ketika menarik napas paru paru terisi penuh sempurna dan ketika menghembuskan napas paru paru kosong sempurna pula. Ketika menghirup udara kita menghirup oxigen dari udara memenuhi paru-paru selanjutnya oxigen tersebut diangkut oleh darah keseluruh tubuh memenuhi kebutuhan seluruh sel ditubuh kita. Disamping oxigen kita juga menghirup energi kehidupan atau energi hayati yang biasa juga disebut energi Prana, Ki, atau Chi. Energi hayati diserap oleh otak besar kemudian dialirkan melalui saluran saraf ditulang belakang keseluruh tubuh.
Tarik napas perlahan lahan sambil membaca kalimat asmaulhusna misalnya “ya Rahman” , setelah paru paru penuh dengan udara tahan napas dengan mengeraskan otot perut sambil tetap membaca kalimat asmaulhusna tersebut, tahan selama yang bisa dilakukan, kemudian hembuskan napas sambil berdo’a misalnya :
”birohmatika ya arhamarrohimin irhamna” .
Selama menarik, menahan dan menghembuskan napas fikiran dan hati dikonsentrsasikan serta fokus pada kalimat dzikir dan do’a yang dibaca. Rasakan juga energi hayati yang diserap otak besar dan dialirkan pada saluran syaraf di tulang punggung keseluruh tubuh. Ini hanya salah satu contoh dari dzikir pernapasan asmaulhusna. Dalam pelatihan yang kami adakan anda akan dilatih melakukan tehnik pernapasan dengan beberapa kalimat asmaulhusna dan manfaat yang didapat dari dzikir tersebut.
Tehnik yang sama bisa dilakukan untuk dzikir tadabbur Qur’an. Dimana ketika menarik napas bacalah kalimah syahadat ,salawat Nabi , atau kalimat hasballah. Selanjutnya ketika menahan napas baca ayat Qur’an tertentu yang akan ditadabburi. Ketika menghembuskan napas baca do’a yang sesuai dengan ayat yang anda baca ketika menahan napas tadi. Semua metode ini akan lebih jelas lagi jika anda mengikuti pelatihan yang kami adakan. Anda bisa menterapi diri anda dengan ayat Qur’an yang anda baca, sehingga ahlak dan pribadi anda akan terbentuk oleh Al-Qur’an. Terapi dzikir tadabur Qur’an bermanfaat untuk menghilangkan berbagai sifat buruk dan negatif dari diri anda, menambah kedekatan anda dengan Allah pencipta alam semesta, meningkatkan iman dan taqwa, menyiapkan perbekalan untuk kehidupan akhirat membangkitkan semangat kerja dan optimisme menghadapi berbagai masalah kehidupan, dan banyak lagi manfaat lainnya.
Pengolahan napas dalam sholat
Dewasa ini banyak kita temui orang yang mengerjakan sholat hanya sekedar memenuhi kewajiban saja, mereka mengerjakan sholat hanya sebagai ritual rutin yang kadangkala dilakukan dengan setengah hati. Berdiri , rukuk dan sujud kadangkala mereka lakukan dengan tergesa gesa tanpa ,memperhatikan tu’maninah yang diajarkan Rasululullah.
Dengan pengaturan napas yang tepat dan benar dan memahami detiap ayat dan kalimat yang dibaca dalam sholat diharapkan anda bisa melakukan sholat dengan tenang, tidak tergesa gesa dan sesuai dengan tu’maninah yang diajarkan Rasulullah. Pada prinsipnya selama sholat lakukanlah pernapasan dengan perlahan dan sempurna. Ketika menarik napas paru paru diisi penuh sempurna, dan ketika menghembuskan napas paru paru kosong sempurna. Dengan pernapasan yang dilakukan secara perlahan dan tenang anda akan terhindar dari sifat tergesa gesa dalam sholat.
Pernapasan sempurna akan meningkatkan konsentrasi anda fokus pada ayat yang dibaca, disamping itu juga meningkatkan kadar oxigen yang diserap darah dari paru paru. Peningkatan kadar oxigen dan gerakan yang tenang akan memberikan relaksasi dan meningkatkan kesegaran tubuh. Selama dan selesai sholat anda akan merasakan kesegaran yang mengalir disekujur tubuh. Insya Allah sholat akan dirasakan sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan dan mengasyikan sehingga sholat tidak lagi dirasakan sebagai beban tapi sholat sudah dirasakan sebagai suatu kebutuhan.
Dalam pelatihan sholat khusuk yang kami adakan disamping tehnik pengolahan napas anda juga akan dilatih untuk menyamakan lisan , fikiran dan hati didalam sholat sehingga anda bisa mengerjakan sholat dengan khusuk. Kebanyakan orang tidak bisa khusuk dalam sholat mulutnya mengatakan A, fikirannya membayangkan B dan hatinya merasakan C. Padahal diluar sholat mereka sudah biasa mengalami kondisi khusuk, misalnya ketika mereka sedang berbicara dengan seseorang melalui handphone pasti yang diucapkan, dibayangkan oleh fikiran dan dirasakan hatinya sama.
Dzikir Pernapasan
Untuk membuka pintu rezeki , kemuliaan dan kelapangan hidup lakukanlah dzikir pernapasan tadabbur Qur’an sebagai berikut dibawah ini. Waktunya bisa dipilih sesudah sholat, pagi hari , sore hari atau menjelang tidur. Usahakan memakai pakaian yang longgar , sehingga tidak mengganggu ketika melakukan kegiatan olah napas.
Ketika menarik napas baca kalimat hasbalah :
Hasbiayallahu wani’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashir. Wakafa billahi waliyya , wakafa billahi syahida, wakafa billahi wakiila, wakafa billahi nashiroo
Cukup Allah bagiku Dia sebaik baik pelindung, sebaik baik pemimpin dan sebaiki baik penolong. Cukup Allah sebagai pemimpin, cukup Allah sebagai saksi, cukup Allah sebagai pelindung, cukup Allah sebagai penolong.
Bisa juga dibaca dua kalimah sahadat dan sholawat seperti pada saat duduk tahiyat akhir.
1. Ketika menahan napas baca salah satu dari ayat Qur’an sebagai berikut didalam hati :
AL – ISRAAK AYAT 30
Inna robbaka yabsuthu rizqo limayyasyaa’u wa yaqdir Innahuu kaana bi ibadihi khobiirom bashiiro
Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
(Al Israak 30)
AL ANKABUT 62
Allahu yabsuthu rizqo limayyasyaa’u wa yaqdir Innallaha bikulli syai’in aliim
Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(Al Ankabut 62)
AS SYURA 12
Lahuu maqooliidus samaawaati wal ardhi . Yabsuthur rizqo limayyasyaa’u wayaqdir. Innahuu bikulli syai’in alimm
Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.(As-Syuraa 12)
Ketika menghembuskan napas baca Do’a tadabbur :
Ya Allah kepunyaan Engkaulah perbendaharaan kekayaan dilangit dan bumi , Engkaulah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Engkau kehendaki hamba mohon padaMu, lapangkan rezeki hamba (kami) selapang lapangnya, jangan Kau sempitkan rezeki hamba (kami), jangan Kau sempitkan hidup hamba (kami), Engkau maha mengetahui dan maha melihat keadaan kami, perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah.
Manfaat nya:
• Membuka jalan dan pintu rezeki bagi orang yang dalam kesempitan hidup
• Melindungi diri dari kefakiran dan kemiskinan
• Hidup berkecukupan dan selalu terpenuhi hajat dan kebutuhannya
2. Ketika menahan napas baca surat Fathir ayat 2, sebagai berikut didalam hati :
Maa yaftahillahu linnaasi mirrohmatin falaa mumsika laha, wamaa yumsik falaa mursilalahu mimbad’dihi wahuwal azizul hakim
Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(Fathir 2)
Ketika menghembuskan napas baca Do’a tadabbur :
Ya Allah apa –apa Rahmat yang Kau bukakan bagi kami tidak ada seorangpun yang dapat mencegahnya, dan apa saja yang Kau tahan dari kami tidak seorangpun yang sanggup membukakannya. Ya Allah bukakan bagi kami pintu rahmat dari sisiMu dengan seluas luasnya, jangan Kau tahan Rahmat dan karuniaMu bagi kami ya Allah, Engkau maha Perkasa lagi maha Bijaksana, perkenankan permohonan kami ini ya Allah.
Manfaatnya antara lain :
• Mendapat rahmat dan karunia dari Allah
• Mendapat kelapangan hidup, dan terpenuhi semua hanjat dan kebutuhannya
• Terpelihara dari fitnah dan kejahatan orang yang dengki
• Terpelihara dari kefakiran, kemiskinan dan kesempitan hidup
3 . Ketika menahan napas baca surat Ibrahim ayat 32 :
Allahulladzii kholaqossamawaati wal ardho wa anzala minassamaa’i maa anfa akhroja bihii minaatsamarooti rizqollakum . wa sakhorolakumul fulka litajriya fil bahri bi amrihi . wa sakhorolakumul anhaar
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. (Ibrahim 32)
Ketika menghembuskan napas baca do’a tadabbur:
Segala puji bagiMu ya Allah yang telah menjadikan langit dan bumi dan menurunkan hujan bagi kami dari langit , segala puji bagiMu ya Allah yang telah mengeluarkan bagi kami bermacam macam buah buahan sebagai rezeki , dan telah menundukan bahtera yang berlayar dilaut , dan sungai sungai untuk keperluan kami. Ya Allah bukakan bagi kami pintu rezeki dari segala penjuru yang Kau berkahi , bukakan bagi kami pintu rezeki dari langit dan bumi , lapangkan hidup kami selapang lapangnya perkenankan permohonan kami ini ya Allah
Manfaatnya antara lain :
Menamankan kesadaran tentang kebesaran dan kekuasaan Allah
Menamankan kesadaran bahwa Allah yang memberi kehidupan bagi segala mahluk yang ada dilangit dan bumi
Memberi kesadaran bahwa Allahlah yang memberi rezeki pada sekalian mahluk yang ada dilangit dan bumi
Mendapat kecukupan dan kelapangan hidup serta rezeki berlimpah dari sisi Allah
Terpelihara dari kefakiran , kemiskinan dan kemelaratan hidup
4 Ketika menahan napas baca surat Al Israak ayat 70 :
Walaqod karamna bani aadama wahamalnaahum fil barri wal bahri warozaqnaahum minathoyyibaati wa fadholnaahum alaa katsirom mimman kholaqnaa tafdhiilaa
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
(Al Israak 70)
Ketika menghembuskan napas baca do’a tadabbur sebagai berikut didalam hati :
Ya Allah Engkau telah memuliakan bani adam dan mengangkut mereka didarat dan dilautan, dan Kau beri mereka rezeki dari yang baik baik, dan Kau lebihkan mereka dari kebanyakan mahluk yang kau ciptakan. Ya Allah kami mohon padaMu beri kami kemuliaan dan rezeki yang berkah dari sisiMu, beri kami kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang kau ciptakan, Karuniai kami pemberian sebagaimana yang telah kau janjikan dalam Qur’anMu yang agung ini ya Allah, perkenankanlah permohonan kami ya Allah.
Manfaatnya antara lain:
Menanamkan kesadaran betapa Allah telah memuliakan manusia lebih dari mahluk ciptaannya yang lain
Menamankan kesadaran bahwa Allah yang memberi rezeki dan kemuliaan kepada manusia dan mahluk lainnya
Mendapat kemuliaan dan rezeki yang berkah dari sisi Allah
Mendapat kemudahan dan kelapangan hidup
Terpelihara dari kefakiran, kemiskinan dan kemelaratan hidup
Agar anda dapat melaksanakan dzikir pernapasan tadabbur Qur’an ini dengan tepat dan benar , kami sarankan agar anda mengikuti pelatihan yang kami adakan sesuai jadwal di blog ini.
Insya Allah anda bisa menterapi diri anda untuk memperbaiki mutu kehidupan, meraih sukses dan kemenangan serta mendekatkan diri pada Allah.
http://www.fadhilza.com/2010/05/tadabbur/dzikir-pernapasan-tadabbur-qur%E2%80%99an-untuk-membuka-pintu-rezeki-kelapangan-dan-kemuliaan-hidup.html#more-1190
http://www.fadhilza.com/2010/04/tadabbur/tehnik-pengolahan-napas-dzikrullah.html#more-1156
Minggu, 21 November 2010
Para penulis Itu Seperti Siput....
“Kami, para penulis, tulis Camilo Jose Cela, pengarang besar Spanyol yang meraih hadiah nobel 1989, hidup hampir seperti siput, yang sesekali mengeluarkan leher kami, tetapi lalu langsung menariknya kembali.” Apa yang dikatakan Cela sungguh tepat: untuk bisa merenungkan renik-pelik persoalan yang menghampar di bumi manusia ini, dan kemudian menghadirkannya ke dalam sulaman permadani kata-kata, seorang penulis perlu terlebih dulu menarik diri dari kancah orang ramai dan riuh rendah kehidupan sehari-hari. Di ruang kerjanya, seorang diri dengan hanya dikelilingi oleh tenaga kesunyian yang dahsyat. Dari hari ke hari, sang penulis mesti bergulat dengan pikirannya, dengan kebahagiaan dan kepedihan yang merundung diri dan sesamanya, dengan cahaya yang menyemburat dari kata-katanya. Tanpa ketabahan dan kegigihan yang keras kepala semacam ini, seorang penulis tak akan pernah bisa melahirkan karya-karya yang agung dan bermartabat.
Namun sejatinya, seorang penulis tak pernah sendirian benar. Sebelum mampu mencipta dunia-dunia baru dalam karyanya, dia akan dipandu dan ditemani oleh karya-karya para pendahulunya, oleh buku-buku orang lain, oleh kisah-kisah orang lain, oleh kata-kata orang lain. Sesiapa yang ingin jadi penulis mesti sadar betul bahwa mengandalkan bakat alam serta percikan inspirasi saja tidaklah cukup. Terlebih dahulu dia mesti menjelajah dan melakukan ekspedisi ke alam pikiran orang lain, menyibak dan mengupas kisah-kisah orang lain. Setiap halaman buku adalah jendela. Seseorang bisa mengintip aneka hal dari jendela itu: bangkit dan runtuhnya dinasti, suku-suku asing dan pelbagai ras yang unik, perkelahian manusia yang sia-sia melawan waktu, percintaan yang menggetarkan, binatang-binatang yang ganjil, batu-batu tak bernama, secercah warna kupu-kupu atau setangkai bunga lili yang mekar sendirian di lembah sunyi. Dengarlah pengakuan Jean Paul Sartre dalam otobiografinya yang bertajuk Les Mots: “Buku-bukulah yang menjadi burung dan sarangku, binatang piaraanku, kandang berikut seluruh dunia pedesaanku.” Dengan sayap buku-buku seseorang bisa terbang menembus tingginya angkasa pengetahuan, menghirup oksigen jernih yang mengambang di atas pedesaan kata-kata, atau menyelam jauh ke bawah laut, menemukan spesies-spesies langka dan pasir kearifan yang telah dihimpun umat manusia selama berabad-abad. Dalam penerbangan dan penyelaman itu, indra-indra dan pikiran mesti terus awas dan peka; sang penulis mesti tahu kapan saat meraba, mendengar, mencium, memeluk atau melepas, mengalah atau menantang, bersembunyi atau bertarung dengan kata-kata. Kalau tidak, bisa-bisa dia terkecoh dan tersesat di hutan lambang yang menyesatkan, atau terbutakan oleh dunia menyilaukan yang tiba-tiba terbentang tak terduga di hadapannya.
Adakalanya sang penulis juga mesti bersabar, sebab perjalanan dengan buku-buku kadang sulit dan berat, seperti mengarungi tempat tak berpeta dan tanpa rute yang jelas. Penuh ranjau, onak, dan duri. Sehingga boleh jadi setelah sang penulis suntuk dari detik ke detik, dari jam ke jam, rimba kata-kata dan lambang-lambang itu masih saja gelap dan tak menyingkapkan misterinya, rahasianya. Dalam satu pasase hidupnya sebagai penerbang dan penyelam kata-kata, Sartre pun tak luput dari deraan kesulitan itu. Kenangnya: “Berbaring di permadani, kulakukan perjalanan-perjalanan yang berat ke tengah karya-karya Fontenelle, Aristophanus dan Rebelais: kalimat-kalimat berkutat di hadapanku seperti benda-benda hidup; mereka harus kuamati; aku mengelilinginya, pura-pura kujauhi dan tiba-tiba kembali agar bisa mengagetkan mereka di saat lengah: pada umumnya kalimat-kalimat itu tidak bisa membuka rahasia dirinya.” Berat dan sulitnya perjalanan itu, tak boleh membuat sang penulis menyerah dan surut, sebab jika demikian dia adalah pengecut, baik dalam darahnya maupun dalam jiwanya. Seorang penulis mesti terus meluaskan batas-batas kesadarannya, membentangkan layar dan merambah lautan-lautan dan kemungkinan-kemungkinan baru, memasuki goa-goa batin yang keramat dan terlarang, menyimak dan kemudian menyenandungkan lagu-lagu kemanusiaan yang telah terkubur atau tertekan. Semangat pencarian dan petualangan seorang penulis mesti seperti ombak yang, tiap-tiap kali pecah membentur batu karang, tiap-tiap kali datang lagi dengan tenaga dan hempasan-hempasan yang lebih kuat. Kelak, setelah selama bertahun-tahun mengurung diri di dalam kamar bersama buku-bukunya dan menapaki perjalanan panjang dan jauh ke (dan di) dalam batinnya sendiri, seorang penulis, kata sastrawan raksasa dari Turki, Orhan Pamuk, dalam kuliah nobelnya yang mengharukan “My Fathers Suitcase”: “akan menemukan kekuatan abadi sebuah karya sastra; ia akan menguasai kepiawaian untuk menyampaikan cerita-cerita sendiri seakan-akan telah menjadi cerita-cerita orang lain, dan untuk menyampaikan cerita-cerita orang lain seakan-akan sudah menjadi ceritanya sendiri. Dan untuk inilah sastra itu ada. Tetapi kita memang harus menjelajahi cerita-cerita dan buku-buku orang lain itu terlebih dahulu.”
Beberapa abad sebelum Sartre dan Pamuk, yakni sekitar medio abad ke-16, hidup seorang penerbang dan penyelam kata-kata yang ulung, bernama Michel de Montaigne. Tatkala seantero bumi Prancis—dan juga Eropa—tengah dicekam perang agama yang berdarah-darah dan tak berkesudahan, Montaigne menarik diri dan lalu menghabiskan seluruh hidupnya di perpustakaan pribadinya yang terletak di lantai tiga menara, nun jauh di pedalaman barat daya Prancis, di puncak bukit 30 mil, timur Bourdeaux. Perpustakaan itu mempunyai tiga jendela, sebuah bangku, kursi, dan tiga rak tingkat lima agak melingkar, berisi lebih dari seribu volume tentang filsafat, sejarah, puisi, dan agama. Di sinilah bangsawan paruh baya itu ber-uzlah dan mengurung diri, menyaksikan ketabahan Socrates dalam menghadapi para juri Athena, menyimak pandangan Epicurus mengenai kebahagiaan, menikmati humor-humor Seneca, membaca dengan khusuk Metamorphoses karya Ovid, atau terpukau oleh Tusculan Disputations-nya Cicero. Kelak, hasil dari pelancongan Montaigne yang panjang dengan buku-buku dan kepak imajinasinya itu menghasilkan sebuah genre tulisan yang baru, yang kita kenal dengan sebutan Essay.
Cela, Sartre, Pamuk, Montaigne, juga para pengarang besar lainnya: merekalah suri bagi siapapun yang ingin menempuh jalan sunyi menjadi penulis. Mereka telah menempuh petualangan yang jauh nan berbahaya untuk menemukan pulau-pulau kosong tempat rumah-rumah imajinasi ditegakkan dan dipelihara, gagasan-gagasan ajaib mengembang dan bercahaya, pohon-pohon impian tumbuh dan menjulang menakjubkan. Dan di manapun terdapat kegersangan atau ketandusan, maka para pengarang bakal datang menurunkan hujan rahmat dan menebarkan benih-benih harapan. Benih-benih harapan yang kelak akan menjelma kota-kota peradaban masa depan, yang tersusun dari kata-kata kita yang paling rahasia, bisikan-bisikan dan mimpi-mimpi kita, kerja keras kita, darah kita, cinta kita, sejarah kita. Begitulah yang telah terjadi, dan akan selalu tetap begitu!
catatan: tulisan ini udah lama kutulis, sekitar 7 bulan yg lalu...di muat di mjlh gong kyknya.sy teringt tulisan ini lagi setelah berbincang dengan sahabat saya,irianto ibrahim dari buton, tentang pohon dan silisilah kepengarangan, visi menulis, dan kinerja para penulis yg layak atau tak layak di contoh. kepada teman2 sesama penulis, mari bekerja lebih keras lagi, bukit2 masih menjulang di kejauhan, kita blm lagi apa apa....semangat!
“Kami, para penulis, tulis Camilo Jose Cela, pengarang besar Spanyol yang meraih hadiah nobel 1989, hidup hampir seperti siput, yang sesekali mengeluarkan leher kami, tetapi lalu langsung menariknya kembali.” Apa yang dikatakan Cela sungguh tepat: untuk bisa merenungkan renik-pelik persoalan yang menghampar di bumi manusia ini, dan kemudian menghadirkannya ke dalam sulaman permadani kata-kata, seorang penulis perlu terlebih dulu menarik diri dari kancah orang ramai dan riuh rendah kehidupan sehari-hari. Di ruang kerjanya, seorang diri dengan hanya dikelilingi oleh tenaga kesunyian yang dahsyat. Dari hari ke hari, sang penulis mesti bergulat dengan pikirannya, dengan kebahagiaan dan kepedihan yang merundung diri dan sesamanya, dengan cahaya yang menyemburat dari kata-katanya. Tanpa ketabahan dan kegigihan yang keras kepala semacam ini, seorang penulis tak akan pernah bisa melahirkan karya-karya yang agung dan bermartabat.
Namun sejatinya, seorang penulis tak pernah sendirian benar. Sebelum mampu mencipta dunia-dunia baru dalam karyanya, dia akan dipandu dan ditemani oleh karya-karya para pendahulunya, oleh buku-buku orang lain, oleh kisah-kisah orang lain, oleh kata-kata orang lain. Sesiapa yang ingin jadi penulis mesti sadar betul bahwa mengandalkan bakat alam serta percikan inspirasi saja tidaklah cukup. Terlebih dahulu dia mesti menjelajah dan melakukan ekspedisi ke alam pikiran orang lain, menyibak dan mengupas kisah-kisah orang lain. Setiap halaman buku adalah jendela. Seseorang bisa mengintip aneka hal dari jendela itu: bangkit dan runtuhnya dinasti, suku-suku asing dan pelbagai ras yang unik, perkelahian manusia yang sia-sia melawan waktu, percintaan yang menggetarkan, binatang-binatang yang ganjil, batu-batu tak bernama, secercah warna kupu-kupu atau setangkai bunga lili yang mekar sendirian di lembah sunyi. Dengarlah pengakuan Jean Paul Sartre dalam otobiografinya yang bertajuk Les Mots: “Buku-bukulah yang menjadi burung dan sarangku, binatang piaraanku, kandang berikut seluruh dunia pedesaanku.” Dengan sayap buku-buku seseorang bisa terbang menembus tingginya angkasa pengetahuan, menghirup oksigen jernih yang mengambang di atas pedesaan kata-kata, atau menyelam jauh ke bawah laut, menemukan spesies-spesies langka dan pasir kearifan yang telah dihimpun umat manusia selama berabad-abad. Dalam penerbangan dan penyelaman itu, indra-indra dan pikiran mesti terus awas dan peka; sang penulis mesti tahu kapan saat meraba, mendengar, mencium, memeluk atau melepas, mengalah atau menantang, bersembunyi atau bertarung dengan kata-kata. Kalau tidak, bisa-bisa dia terkecoh dan tersesat di hutan lambang yang menyesatkan, atau terbutakan oleh dunia menyilaukan yang tiba-tiba terbentang tak terduga di hadapannya.
Adakalanya sang penulis juga mesti bersabar, sebab perjalanan dengan buku-buku kadang sulit dan berat, seperti mengarungi tempat tak berpeta dan tanpa rute yang jelas. Penuh ranjau, onak, dan duri. Sehingga boleh jadi setelah sang penulis suntuk dari detik ke detik, dari jam ke jam, rimba kata-kata dan lambang-lambang itu masih saja gelap dan tak menyingkapkan misterinya, rahasianya. Dalam satu pasase hidupnya sebagai penerbang dan penyelam kata-kata, Sartre pun tak luput dari deraan kesulitan itu. Kenangnya: “Berbaring di permadani, kulakukan perjalanan-perjalanan yang berat ke tengah karya-karya Fontenelle, Aristophanus dan Rebelais: kalimat-kalimat berkutat di hadapanku seperti benda-benda hidup; mereka harus kuamati; aku mengelilinginya, pura-pura kujauhi dan tiba-tiba kembali agar bisa mengagetkan mereka di saat lengah: pada umumnya kalimat-kalimat itu tidak bisa membuka rahasia dirinya.” Berat dan sulitnya perjalanan itu, tak boleh membuat sang penulis menyerah dan surut, sebab jika demikian dia adalah pengecut, baik dalam darahnya maupun dalam jiwanya. Seorang penulis mesti terus meluaskan batas-batas kesadarannya, membentangkan layar dan merambah lautan-lautan dan kemungkinan-kemungkinan baru, memasuki goa-goa batin yang keramat dan terlarang, menyimak dan kemudian menyenandungkan lagu-lagu kemanusiaan yang telah terkubur atau tertekan. Semangat pencarian dan petualangan seorang penulis mesti seperti ombak yang, tiap-tiap kali pecah membentur batu karang, tiap-tiap kali datang lagi dengan tenaga dan hempasan-hempasan yang lebih kuat. Kelak, setelah selama bertahun-tahun mengurung diri di dalam kamar bersama buku-bukunya dan menapaki perjalanan panjang dan jauh ke (dan di) dalam batinnya sendiri, seorang penulis, kata sastrawan raksasa dari Turki, Orhan Pamuk, dalam kuliah nobelnya yang mengharukan “My Fathers Suitcase”: “akan menemukan kekuatan abadi sebuah karya sastra; ia akan menguasai kepiawaian untuk menyampaikan cerita-cerita sendiri seakan-akan telah menjadi cerita-cerita orang lain, dan untuk menyampaikan cerita-cerita orang lain seakan-akan sudah menjadi ceritanya sendiri. Dan untuk inilah sastra itu ada. Tetapi kita memang harus menjelajahi cerita-cerita dan buku-buku orang lain itu terlebih dahulu.”
Beberapa abad sebelum Sartre dan Pamuk, yakni sekitar medio abad ke-16, hidup seorang penerbang dan penyelam kata-kata yang ulung, bernama Michel de Montaigne. Tatkala seantero bumi Prancis—dan juga Eropa—tengah dicekam perang agama yang berdarah-darah dan tak berkesudahan, Montaigne menarik diri dan lalu menghabiskan seluruh hidupnya di perpustakaan pribadinya yang terletak di lantai tiga menara, nun jauh di pedalaman barat daya Prancis, di puncak bukit 30 mil, timur Bourdeaux. Perpustakaan itu mempunyai tiga jendela, sebuah bangku, kursi, dan tiga rak tingkat lima agak melingkar, berisi lebih dari seribu volume tentang filsafat, sejarah, puisi, dan agama. Di sinilah bangsawan paruh baya itu ber-uzlah dan mengurung diri, menyaksikan ketabahan Socrates dalam menghadapi para juri Athena, menyimak pandangan Epicurus mengenai kebahagiaan, menikmati humor-humor Seneca, membaca dengan khusuk Metamorphoses karya Ovid, atau terpukau oleh Tusculan Disputations-nya Cicero. Kelak, hasil dari pelancongan Montaigne yang panjang dengan buku-buku dan kepak imajinasinya itu menghasilkan sebuah genre tulisan yang baru, yang kita kenal dengan sebutan Essay.
Cela, Sartre, Pamuk, Montaigne, juga para pengarang besar lainnya: merekalah suri bagi siapapun yang ingin menempuh jalan sunyi menjadi penulis. Mereka telah menempuh petualangan yang jauh nan berbahaya untuk menemukan pulau-pulau kosong tempat rumah-rumah imajinasi ditegakkan dan dipelihara, gagasan-gagasan ajaib mengembang dan bercahaya, pohon-pohon impian tumbuh dan menjulang menakjubkan. Dan di manapun terdapat kegersangan atau ketandusan, maka para pengarang bakal datang menurunkan hujan rahmat dan menebarkan benih-benih harapan. Benih-benih harapan yang kelak akan menjelma kota-kota peradaban masa depan, yang tersusun dari kata-kata kita yang paling rahasia, bisikan-bisikan dan mimpi-mimpi kita, kerja keras kita, darah kita, cinta kita, sejarah kita. Begitulah yang telah terjadi, dan akan selalu tetap begitu!
catatan: tulisan ini udah lama kutulis, sekitar 7 bulan yg lalu...di muat di mjlh gong kyknya.sy teringt tulisan ini lagi setelah berbincang dengan sahabat saya,irianto ibrahim dari buton, tentang pohon dan silisilah kepengarangan, visi menulis, dan kinerja para penulis yg layak atau tak layak di contoh. kepada teman2 sesama penulis, mari bekerja lebih keras lagi, bukit2 masih menjulang di kejauhan, kita blm lagi apa apa....semangat!
Kamis, 18 November 2010
"Cukupkanlah dirimu dengan tiga hal. Pertama, sesungguhnya di antara sekian banyak kenikmatan dunia cukuplah islam sebagai nikmat untukmu. Kedua, di antara sekian banyak kesibukan, cukuplah ketaatanmu kepada Allah sebagai kesibukan bagimu. Dan ketiga, di antara sekian banyak pelajaran, cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu.". (Ali bin Abi Thalib
romansa merah jambu-kurnia usman
Bagi Gadis, menyendiri di tepi danau, menunggu seseorang yang pernah berjanji padanya tidak cuma bingung dan termenung.
Dia pergi ke tepi danau di tengah hutan setelah usai memanen padi ladang bersama Bapak dan Emak. Bila akan pergi ke tepi danau berair biru jernih itu, dia tak lupa membawa beberapa lembar kain belacu putih dan peralatan menyulam. Di keheningan tepi danau tercium olehnya harum bunga mawar hutan. Dia dengar nyanyian burung dan hiruk pikuk kawanan kera. Dia melihat gelepar ekor ikan di permukaan danau. Air beriak bagaikan tersibak. Di atas tebing, daun pepohonan sangat rimbun—bercermin di air danau yang bening.
Sekian tahun silam, menjelang petang, seorang pelukis tua berjanggut lebat, dan putranya datang dari kota ke ladang di tepi hutan itu. Pemuda tampan itu menyetir mobil jip tua dan membantu sang ayah membawa peralatan melukis. Bapak dan Emak Si Gadis mengizinkan Si Pelukis dan putranya memasang tenda di tepi ladang. Perupa itu berniat melukis fauna dan flora di hutan sekitar itu. Dia juga mau melukis peladang, pengail ikan di sekitar danau, mawar hutan, dan pemandangan alam.
Semula, Bapak dan Emak agak ragu untuk mengizinkan Si Pelukis dan putranya mendirikan tenda di tepi ladang mereka. Berkat perilaku santun kedua tamu, hati orangtua Gadis luluh. Keramahtamahan Si Pelukis dan putranya menjadikan mereka cepat akrab. Usia putra Si Pelukis dan Gadis hampir sebaya.
Setelah mendirikan tenda, Si Pelukis minta tolong kepada Emak untuk memasak makanan buat sarapan, makan siang, dan malam—selama mereka bermukin di tepi ladang yang lengang itu. Bapak mengizinkan Emak memasak untuk mereka. Si Pelukis menyerahkan sejumlah uang untuk belanja kepada Emak. Uang itu ditolak Emak. Tetapi, setelah dibujuk berulang-ulang oleh Si Pelukis dengan sabar dan manis, akhirnya uang yang cukup banyak itu diterima Emak. Giliran Gadis menolak uang itu. Katanya, tidak pantas tamu membayar makan kepada tuan dan nyonya rumah. Si Pelukis mengatakan kepada si perawan cantik itu, ”Aku dan putraku bukanlah tamu keluarga di ladang ini. Kami tidak mau membebani keluarga ini. Uang itu tak seberapa. Ya, itu hanya sekadar tanda terima kasih. Kalau pemberian kami itu ditolak, sama dengan keluarga ini tidak ikhlas menerima kami,” lanjut Si Pelukis, lirih.
Setelah Si Pelukis dan putranya masuk tenda, Gadis menggerutu kepada Emak.
”Uang pemberian Si Pelukis itu akan membuat Bapak, Emak, dan aku berutang budi kepada Si Pelukis. Keluarga kecil kita ini bisa disangka mata duitan,” sambungnya. Bapak mengatakan, uang itu sebagai tanda terima kasih. Tidak elok menolak ucapan terima kasih dari seseorang, lanjut Bapak. Sejak saat itu, Gadis diam. Dia pergi ke tepi danau dan menyulam.
Selesai sarapan pagi, esoknya, Si Pelukis mengatakan kepada Bapak, beberapa hari ini, ingin melukis bunga anggrek. Dia mengetahui ada sekitar 30.000 jenis bunga anggrek di seluruh dunia. Tetapi, dari sekian banyak jenis anggrek itu, dia hanya akan melukis beberapa jenis saja. Kemudian, dia menunjukkan kepada Bapak daftar nama puluhan macam bunga anggrek, yakni Anggrek Bambu, Anggrek Bulan, Anggrek Buntut Bajing, Anggrek Congkok Kuning, Anggrek Gebeng, Anggrek Hitam, Anggrek Jambrut, Anggrek Janur, Anggrek Kalajengking, Anggrek Kancil, Anggrek Kasut Belang, Anggrek Kasut Berbulu, Anggrek Kasut Pita, Anggrek KembangGoyang, Anggrek Kepang, Anggrek Lau-Batu, Anggrek Lilin, Anggrek Loreng, Anggrek Mawar, Anggrek Merpati, Anggrek Mutiara, Anggrek Pandan, Anggrek Tanah Kuning, Anggrek Tebu, Anggrek Uncal, dan Anggrek Nan Tongga. Sebagian besar nama anggrek itu masih sangat asing bagi Bapak.
Bapak mengaku sejujurnya, sedikit sekali pengetahuannya mengenai bunga anggrek. Bapak tak menjamin, di hutan sekitar ini terdapat anggrek yang diinginkan Si Pelukis. Sambil tersenyum, Si Pelukis berkata, ”Seberapa adanya sajalah, Pak.”
Selama Si Pelukis dan Bapak mencari bunga anggrek di dalam hutan, Emak memasak di dangau. Gadis dan putra Si Pelukis duduk di tepi danau. Mereka ngobrol dengan seorang pemancing tua, sahabat Gadis. Si Pemancing telah berhasil mengail ikan gabus, lele, gurame, betok, dan mujair. Setelah itu, putra Si Pelukis mengajak Gadis duduk di bawah naungan batang rengas *) besar dan tinggi. Kedua orang muda itu saling menanyakan nama lengkap dan bertukar cerita.
”Namaku Kiagus Muhammad Gindo,” putra Si Pelukis menyebutkan nama lengkapnya. ”Panggil saja aku Gindo,” lanjutnya.
”Namaku Masayu Nurul Indahwati,” kata Gadis malu-malu. ”Biasanya, aku dipanggil Gadis,” ucapnya sambil melipat selembar kain belacu putih yang sedang disulamnya.
”Berapa banyak sarung bantal yang sudah Gadis sulam?” tanya Gindo.
”Lumayan,” jawab Gadis, ”Sulit aku menghitungnya. Sejak kecil aku sudah belajar menjahit dan menyulam pada Emak. Selain menyulam sarung bantal, aku menyulam hiasan dinding untuk pajangan, taplak meja, saputangan, tas kain, dan macam-macam lagi,” cerita Gadis.
”Kau hebat sekali,” puji Gindo.
”Ah, biasa saja,” ujar Gadis.
Gindo terkejut setelah mendengar cerita Gadis tentang kemampuannya membudidayakan ikan patin dan nila. Gadis akan meneliti ikan belida, dalam waktu dekat. Ternyata, Gadis bukanlah perawan dusun yang berpikir kuno dan tradisional. Gindo memberondong Gadis dengan berbagai pertanyaan tentang masa kecil dan masa kininya, tapi tidak berhasil mendapat jawaban sesuai kehendak hatinya. Gadis yang berwajah cantik dan tenang, pemilik mata sebening air danau, tak tak membuka pintu rahasia hatinya. Gindo menyimpulkan, selain pintar, rendah hati, Gadis berkarakter luhur. Gindo secara diam-diam mengagumi kecantikan dan kepribadian Gadis.
Waktu terus berlalu. Si Pelukis telah menyelesaikan lukisan bunga anggrek, satwa liar, danau, peladang, pemancing tua, dan mawar hutan. Terakhir, sebelum pamitan, dia minta izin kepada Bapak dan Emak untuk melukis Gadis dengan latar belakang danau dan kebun tembakau. Kata Bapak dan Emak, terserah pada Gadis. Mengejutkan sekali, Gadis menolak jadi model. Dia merasa tidak berminat dan tak berbakat. Dia juga malu, bila wajah dan tubuhnya diabadikan di kain kanvas, kemudian akan dipamerkan di hadapan para kolektor dan penggemar seni lukis di kota-kota besar. Si Pelukis tak putus asa. Dia membujuk Gadis dengan menawarkan sejumlah uang sebagai honorarium. Iming-iming itu tak mengubah pendirian Gadis.
”Maafkan aku, Pak Pelukis,” kata Gadis sopan. ”Bagaimana mungkin Gadis melakukan pekerjaan yang berbeda dengan kata hati? Bila gadis memaksakan diri menjadi model lukisan Bapak, aku yakin lukisan itu tidak akan berjiwa,” lanjutnya tegas, tapi sopan. Kata-kata Gadis, itu menambah kagum Gindo kepadanya. Di dalam hati, Gindo kurang setuju, Gadis menjadi model lukisan ayahnya. Tumbuh benih cemburu di hati pemuda kritis itu.
”Tak apa-apa kalau Gadis keberatan,” kata Si Pelukis. ”Aku tak hendak memaksa,” lanjutnya, berupaya menyembunyikan rasa kecewanya.
Gadis usul kepada Si Pelukis agar melukis sosok dirinya di dalam imajinasi, tetap berlatar belakang danau, atau ketika dirinya sedang memandang sekuntum mawar hutan. Lukisan berdasarkan imajinasi, kata Gadis mungkin akan lebih indah dan berjiwa dibanding yang natural. Si Pelukis tersentak. Dia tersindir. Dia sadar, dirinya bukanlah tukang gambar. Ali adalah seniman lukis, atau perupa berpengalaman, kata hatinya. Saran Gadis diterimanya dengan jiwa besar. Si Pelukis mengangguk-anggukkan kepala sambil menatap wajah Gadis yang ayu, lembut keibuan, dan selalu tampil alami. Bersahaja saja dia. Saat itu pula, Si Pelukis terkenang pada 0lga, istrinya yang sudah lama tiada.
***
Kehadiran Si Pelukis dan putranya beberapa tahun silam dikenang Gadis sambil menyulam di tepi danau. Senja kali ini bergerimis. Pelangi melengkung di seberang sana danau. Gadis membayangkan tujuh bidadari turun meniti pelangi. Para putri kayangan itu mandi berkecipung di air danau—yang kemerahan disinari matahari senja—semerah isi semangka. Pelangi dan bidadari pun menjadi inspirasi bagi Gadis untuk menyulam. Senja itu, Gadis menyulam sekuntum mawar hutan di selembar kain belacu putih. Dia sangat cemas apabila seluruh hutan dan ladang Bapak kelak menjadi lahan kebun kelapa sawit, tak akan ditemukan lagi mawar hutan. Itulah sebabnya Gadis mengabadikan mawar hutan di dalam beberapa sulaman untuk hiasan dinding. Salah satu sulaman bunga mawar hutan, khusus disediakannya untuk Gindo.
Ketika pamitan, dulu, Gindo mengatakan, awal tahun depan akan menemui Gadis di tepi danau. Sekian lama, Gadis setia menunggu, tapi Gindo tak kunjung datang. Penanggalan di dinding dangau telah diganti Bapak dengan kalender baru, Gindo belum juga datang. Gadis segera kembali ke kota, sehabis cuti tahunan, melanjutkan penelitian ikan belida untuk gelar S2-nya. Si pemancing tua, berjenggot putih, sahabat Gadis di tepi danau merasa sepi setelah Gadis pergi.
Gindo tak berniat melanggar janji kepada Gadis. Musibah telah menimpa Si Pelukis gaek, ayahnya. Jip yang dikendarainya masuk jurang, ketika meneruskan pengembaraan sendirian untuk melukis Bukit Barisan. Lelaki tua pemberani itu tewas di tempat kejadian. Gindo berhalangan menemani ayahnya karena sedang mengikuti ujian S2—jurusan ilmu komunikasi di ibu kota provinsi. Mengenai musibah itu, Gindo telah mengirim e-mail kepada Gadis. Pada bagian akhir e-mail itu, Gindo menulis:
”Gadis yang baik. Kini, aku sudah yatim piatu. 0lga, ibuku, yang asal Rusia meninggal 27 tahun lalu, setelah aku lahir. Ayah tidak pernah menikah lagi karena setia, dan sangat cinta pada Ibu. Bila rindu pada Ibu, Ayah ziarah ke makamnya berlama-lama. Aku janji, 40 hari setelah Ayah wafat, aku segera menemuimu di danau. Banyak yang ingin kukatakan kepadamu. Gadis, Ketahuilah, di dalam diriku sedang menguntum romansa merah jambu. Sampai di sini dulu, ya? Salam. Gindo selalu merindukanmu.” Pesan itu tak sampai karena laptop milik Gadis sedang mengalami error.
Di ujung tahun, Gindo menyetir jip tua peninggalan ayahnya menuju danau. Dia tercengang di depan pagar besi tinggi berkawat duri. Dirasakannya pagar yang menghadang itu sangat angkuh. Ladang dan hutan tak tampak lagi. Tanaman kelapa sawit muda setinggi lutut—terbentang di depannya seluas mata memandang. Danau makin sunyi. Pemancing tua entah berada di mana? Tak ada lagi pepohonan tinggi yang berdaun rimbun di sekitar danau itu. Gindo tidak diizinkan masuk lokasi perkebunan sawit oleh petugas keamanan berseragam hijau-loreng. Para petugas keamanan itu tidak dapat menjawab pertanyaan Gindo, ”Di mana Emak, Bapak, dan Gadis, setelah hutan, dan ladang mereka digusur?
(Mengenang Tanjung Serian, dusun Bapak, Kepur, dusun Emak, dan Tanjung Raman, dusun Taufik Kiemas—di tepi Sungai Lematang).
Villa Kalisari, Depok, 04 Juni 2010
*) Pohon yang kayunya merah, getahnya sangat tajam, dan gatal bila tersentuh, dapat menyebabkan kulit melepuh. Getahnya dapat dijadikan cat pernis atau minyak kayu. Buahnya mirip jeruk purut, warna cokelat, tak dapat dimakan.
Dia pergi ke tepi danau di tengah hutan setelah usai memanen padi ladang bersama Bapak dan Emak. Bila akan pergi ke tepi danau berair biru jernih itu, dia tak lupa membawa beberapa lembar kain belacu putih dan peralatan menyulam. Di keheningan tepi danau tercium olehnya harum bunga mawar hutan. Dia dengar nyanyian burung dan hiruk pikuk kawanan kera. Dia melihat gelepar ekor ikan di permukaan danau. Air beriak bagaikan tersibak. Di atas tebing, daun pepohonan sangat rimbun—bercermin di air danau yang bening.
Sekian tahun silam, menjelang petang, seorang pelukis tua berjanggut lebat, dan putranya datang dari kota ke ladang di tepi hutan itu. Pemuda tampan itu menyetir mobil jip tua dan membantu sang ayah membawa peralatan melukis. Bapak dan Emak Si Gadis mengizinkan Si Pelukis dan putranya memasang tenda di tepi ladang. Perupa itu berniat melukis fauna dan flora di hutan sekitar itu. Dia juga mau melukis peladang, pengail ikan di sekitar danau, mawar hutan, dan pemandangan alam.
Semula, Bapak dan Emak agak ragu untuk mengizinkan Si Pelukis dan putranya mendirikan tenda di tepi ladang mereka. Berkat perilaku santun kedua tamu, hati orangtua Gadis luluh. Keramahtamahan Si Pelukis dan putranya menjadikan mereka cepat akrab. Usia putra Si Pelukis dan Gadis hampir sebaya.
Setelah mendirikan tenda, Si Pelukis minta tolong kepada Emak untuk memasak makanan buat sarapan, makan siang, dan malam—selama mereka bermukin di tepi ladang yang lengang itu. Bapak mengizinkan Emak memasak untuk mereka. Si Pelukis menyerahkan sejumlah uang untuk belanja kepada Emak. Uang itu ditolak Emak. Tetapi, setelah dibujuk berulang-ulang oleh Si Pelukis dengan sabar dan manis, akhirnya uang yang cukup banyak itu diterima Emak. Giliran Gadis menolak uang itu. Katanya, tidak pantas tamu membayar makan kepada tuan dan nyonya rumah. Si Pelukis mengatakan kepada si perawan cantik itu, ”Aku dan putraku bukanlah tamu keluarga di ladang ini. Kami tidak mau membebani keluarga ini. Uang itu tak seberapa. Ya, itu hanya sekadar tanda terima kasih. Kalau pemberian kami itu ditolak, sama dengan keluarga ini tidak ikhlas menerima kami,” lanjut Si Pelukis, lirih.
Setelah Si Pelukis dan putranya masuk tenda, Gadis menggerutu kepada Emak.
”Uang pemberian Si Pelukis itu akan membuat Bapak, Emak, dan aku berutang budi kepada Si Pelukis. Keluarga kecil kita ini bisa disangka mata duitan,” sambungnya. Bapak mengatakan, uang itu sebagai tanda terima kasih. Tidak elok menolak ucapan terima kasih dari seseorang, lanjut Bapak. Sejak saat itu, Gadis diam. Dia pergi ke tepi danau dan menyulam.
Selesai sarapan pagi, esoknya, Si Pelukis mengatakan kepada Bapak, beberapa hari ini, ingin melukis bunga anggrek. Dia mengetahui ada sekitar 30.000 jenis bunga anggrek di seluruh dunia. Tetapi, dari sekian banyak jenis anggrek itu, dia hanya akan melukis beberapa jenis saja. Kemudian, dia menunjukkan kepada Bapak daftar nama puluhan macam bunga anggrek, yakni Anggrek Bambu, Anggrek Bulan, Anggrek Buntut Bajing, Anggrek Congkok Kuning, Anggrek Gebeng, Anggrek Hitam, Anggrek Jambrut, Anggrek Janur, Anggrek Kalajengking, Anggrek Kancil, Anggrek Kasut Belang, Anggrek Kasut Berbulu, Anggrek Kasut Pita, Anggrek KembangGoyang, Anggrek Kepang, Anggrek Lau-Batu, Anggrek Lilin, Anggrek Loreng, Anggrek Mawar, Anggrek Merpati, Anggrek Mutiara, Anggrek Pandan, Anggrek Tanah Kuning, Anggrek Tebu, Anggrek Uncal, dan Anggrek Nan Tongga. Sebagian besar nama anggrek itu masih sangat asing bagi Bapak.
Bapak mengaku sejujurnya, sedikit sekali pengetahuannya mengenai bunga anggrek. Bapak tak menjamin, di hutan sekitar ini terdapat anggrek yang diinginkan Si Pelukis. Sambil tersenyum, Si Pelukis berkata, ”Seberapa adanya sajalah, Pak.”
Selama Si Pelukis dan Bapak mencari bunga anggrek di dalam hutan, Emak memasak di dangau. Gadis dan putra Si Pelukis duduk di tepi danau. Mereka ngobrol dengan seorang pemancing tua, sahabat Gadis. Si Pemancing telah berhasil mengail ikan gabus, lele, gurame, betok, dan mujair. Setelah itu, putra Si Pelukis mengajak Gadis duduk di bawah naungan batang rengas *) besar dan tinggi. Kedua orang muda itu saling menanyakan nama lengkap dan bertukar cerita.
”Namaku Kiagus Muhammad Gindo,” putra Si Pelukis menyebutkan nama lengkapnya. ”Panggil saja aku Gindo,” lanjutnya.
”Namaku Masayu Nurul Indahwati,” kata Gadis malu-malu. ”Biasanya, aku dipanggil Gadis,” ucapnya sambil melipat selembar kain belacu putih yang sedang disulamnya.
”Berapa banyak sarung bantal yang sudah Gadis sulam?” tanya Gindo.
”Lumayan,” jawab Gadis, ”Sulit aku menghitungnya. Sejak kecil aku sudah belajar menjahit dan menyulam pada Emak. Selain menyulam sarung bantal, aku menyulam hiasan dinding untuk pajangan, taplak meja, saputangan, tas kain, dan macam-macam lagi,” cerita Gadis.
”Kau hebat sekali,” puji Gindo.
”Ah, biasa saja,” ujar Gadis.
Gindo terkejut setelah mendengar cerita Gadis tentang kemampuannya membudidayakan ikan patin dan nila. Gadis akan meneliti ikan belida, dalam waktu dekat. Ternyata, Gadis bukanlah perawan dusun yang berpikir kuno dan tradisional. Gindo memberondong Gadis dengan berbagai pertanyaan tentang masa kecil dan masa kininya, tapi tidak berhasil mendapat jawaban sesuai kehendak hatinya. Gadis yang berwajah cantik dan tenang, pemilik mata sebening air danau, tak tak membuka pintu rahasia hatinya. Gindo menyimpulkan, selain pintar, rendah hati, Gadis berkarakter luhur. Gindo secara diam-diam mengagumi kecantikan dan kepribadian Gadis.
Waktu terus berlalu. Si Pelukis telah menyelesaikan lukisan bunga anggrek, satwa liar, danau, peladang, pemancing tua, dan mawar hutan. Terakhir, sebelum pamitan, dia minta izin kepada Bapak dan Emak untuk melukis Gadis dengan latar belakang danau dan kebun tembakau. Kata Bapak dan Emak, terserah pada Gadis. Mengejutkan sekali, Gadis menolak jadi model. Dia merasa tidak berminat dan tak berbakat. Dia juga malu, bila wajah dan tubuhnya diabadikan di kain kanvas, kemudian akan dipamerkan di hadapan para kolektor dan penggemar seni lukis di kota-kota besar. Si Pelukis tak putus asa. Dia membujuk Gadis dengan menawarkan sejumlah uang sebagai honorarium. Iming-iming itu tak mengubah pendirian Gadis.
”Maafkan aku, Pak Pelukis,” kata Gadis sopan. ”Bagaimana mungkin Gadis melakukan pekerjaan yang berbeda dengan kata hati? Bila gadis memaksakan diri menjadi model lukisan Bapak, aku yakin lukisan itu tidak akan berjiwa,” lanjutnya tegas, tapi sopan. Kata-kata Gadis, itu menambah kagum Gindo kepadanya. Di dalam hati, Gindo kurang setuju, Gadis menjadi model lukisan ayahnya. Tumbuh benih cemburu di hati pemuda kritis itu.
”Tak apa-apa kalau Gadis keberatan,” kata Si Pelukis. ”Aku tak hendak memaksa,” lanjutnya, berupaya menyembunyikan rasa kecewanya.
Gadis usul kepada Si Pelukis agar melukis sosok dirinya di dalam imajinasi, tetap berlatar belakang danau, atau ketika dirinya sedang memandang sekuntum mawar hutan. Lukisan berdasarkan imajinasi, kata Gadis mungkin akan lebih indah dan berjiwa dibanding yang natural. Si Pelukis tersentak. Dia tersindir. Dia sadar, dirinya bukanlah tukang gambar. Ali adalah seniman lukis, atau perupa berpengalaman, kata hatinya. Saran Gadis diterimanya dengan jiwa besar. Si Pelukis mengangguk-anggukkan kepala sambil menatap wajah Gadis yang ayu, lembut keibuan, dan selalu tampil alami. Bersahaja saja dia. Saat itu pula, Si Pelukis terkenang pada 0lga, istrinya yang sudah lama tiada.
***
Kehadiran Si Pelukis dan putranya beberapa tahun silam dikenang Gadis sambil menyulam di tepi danau. Senja kali ini bergerimis. Pelangi melengkung di seberang sana danau. Gadis membayangkan tujuh bidadari turun meniti pelangi. Para putri kayangan itu mandi berkecipung di air danau—yang kemerahan disinari matahari senja—semerah isi semangka. Pelangi dan bidadari pun menjadi inspirasi bagi Gadis untuk menyulam. Senja itu, Gadis menyulam sekuntum mawar hutan di selembar kain belacu putih. Dia sangat cemas apabila seluruh hutan dan ladang Bapak kelak menjadi lahan kebun kelapa sawit, tak akan ditemukan lagi mawar hutan. Itulah sebabnya Gadis mengabadikan mawar hutan di dalam beberapa sulaman untuk hiasan dinding. Salah satu sulaman bunga mawar hutan, khusus disediakannya untuk Gindo.
Ketika pamitan, dulu, Gindo mengatakan, awal tahun depan akan menemui Gadis di tepi danau. Sekian lama, Gadis setia menunggu, tapi Gindo tak kunjung datang. Penanggalan di dinding dangau telah diganti Bapak dengan kalender baru, Gindo belum juga datang. Gadis segera kembali ke kota, sehabis cuti tahunan, melanjutkan penelitian ikan belida untuk gelar S2-nya. Si pemancing tua, berjenggot putih, sahabat Gadis di tepi danau merasa sepi setelah Gadis pergi.
Gindo tak berniat melanggar janji kepada Gadis. Musibah telah menimpa Si Pelukis gaek, ayahnya. Jip yang dikendarainya masuk jurang, ketika meneruskan pengembaraan sendirian untuk melukis Bukit Barisan. Lelaki tua pemberani itu tewas di tempat kejadian. Gindo berhalangan menemani ayahnya karena sedang mengikuti ujian S2—jurusan ilmu komunikasi di ibu kota provinsi. Mengenai musibah itu, Gindo telah mengirim e-mail kepada Gadis. Pada bagian akhir e-mail itu, Gindo menulis:
”Gadis yang baik. Kini, aku sudah yatim piatu. 0lga, ibuku, yang asal Rusia meninggal 27 tahun lalu, setelah aku lahir. Ayah tidak pernah menikah lagi karena setia, dan sangat cinta pada Ibu. Bila rindu pada Ibu, Ayah ziarah ke makamnya berlama-lama. Aku janji, 40 hari setelah Ayah wafat, aku segera menemuimu di danau. Banyak yang ingin kukatakan kepadamu. Gadis, Ketahuilah, di dalam diriku sedang menguntum romansa merah jambu. Sampai di sini dulu, ya? Salam. Gindo selalu merindukanmu.” Pesan itu tak sampai karena laptop milik Gadis sedang mengalami error.
Di ujung tahun, Gindo menyetir jip tua peninggalan ayahnya menuju danau. Dia tercengang di depan pagar besi tinggi berkawat duri. Dirasakannya pagar yang menghadang itu sangat angkuh. Ladang dan hutan tak tampak lagi. Tanaman kelapa sawit muda setinggi lutut—terbentang di depannya seluas mata memandang. Danau makin sunyi. Pemancing tua entah berada di mana? Tak ada lagi pepohonan tinggi yang berdaun rimbun di sekitar danau itu. Gindo tidak diizinkan masuk lokasi perkebunan sawit oleh petugas keamanan berseragam hijau-loreng. Para petugas keamanan itu tidak dapat menjawab pertanyaan Gindo, ”Di mana Emak, Bapak, dan Gadis, setelah hutan, dan ladang mereka digusur?
(Mengenang Tanjung Serian, dusun Bapak, Kepur, dusun Emak, dan Tanjung Raman, dusun Taufik Kiemas—di tepi Sungai Lematang).
Villa Kalisari, Depok, 04 Juni 2010
*) Pohon yang kayunya merah, getahnya sangat tajam, dan gatal bila tersentuh, dapat menyebabkan kulit melepuh. Getahnya dapat dijadikan cat pernis atau minyak kayu. Buahnya mirip jeruk purut, warna cokelat, tak dapat dimakan.
Langganan:
Postingan (Atom)