"Living is being happy: seeing, hearing, touching, drinking, eating, urinating, defecating, diving into the water and gazing at the sky, laughing and crying."
— Milan Kundera
Senin, 14 Februari 2011
Minggu, 13 Februari 2011
Internet Semakin Dekat Atau Menjauhi Manusia
Oleh: Dewi Wulansari (Mahasiswi Sastra Inggris UNDIP)
Internet khususnya situs jejaring sosial di dalamnya, mampu menjadikan manusia bebas mengungkapkan dirinya. Menurut Ludwig Feurbach, kata menjadikan manusia bebas. Siapa tak mampu mengungkapkan diri, ia tak lebih dari seorang budak. Bicara merupakan tindak kebebasan, kata adalah kebebasan itu sendiri. Jejaring sosial lewat internet seperti friendster, facebook, twitter, YM, skypy, blog, pluk dll mampu mengakomodir kebebasan berkata. Yang mana kebebasan berkata merupakan salah satu eksistensi manusia.
Internet dengan situs-situs jejaring sosialnya telah berhasil menangkap kebutuhan-kebutuhan manusia yang paling mendasar yaitu eksistensi dan bersosialisasi. Meskipun, sebenarnya eksistensi yang ditawarkan oleh jejaring sosial itu hanyalah keberadaan bentuk/wujud semunya. Namun, hal tersebut mampu membuat kita menunjukkan diri dalam sisi-sisi yang berbeda, bisa lewat tulisan, foto, komentar, chat dll. Sosialisasipun menjadi lebih mudah dan praktis bahkan ekonomis, sehingga permasalahan jarak, waktu, tenaga, dan biaya bisa terminimalisir. Internet telah membuat kedekatan baik secara emosional, kultural dan personal diantara pribadi satu dengan pribadi yang lain. Jejaring sosial-pun bisa termanfaatkan untuk pencarian link (teman, usaha, karir, jodoh). Hal ini menunjukkan bahwa internet mampu mendekati kebutuhan manusia.
Namun mesin dan penemuan baru ternyata tak bisa bicara apa-apa tentang manusia. Sehebat-hebatnya mesin dan pengetahuan, tetap tidak berpribadi. Kita tidak bisa melihat pribadi yang sesungguhnya dan sebenarnya hanya dengan melihatnya dari jejaring sosial. Karena pribadi seseorang itu tidak hanya bisa dinilai dari kata, ucapan/ungkapan dan fotonya. Pribadi seseorang yang sebenarnya hanya bisa kita lihat dalam penampakan wujud dan peran aslinya dalam bereksistensi dan bersosialisasi di dunia nyata bukan dunia maya. Cara berseksistensi dan bersosialisasi melalui internet, itu seperti kita bereksistensi dan bersosialisai dengan mesin. Yang mana kita akan sangat bergantung pada mesin, malas dalam bertindak dan belajar malas bertindak.
Jika cara bereksistensi dan bersosialisai dengan melalui dunia maya (internet) menjadi budaya, lama-kelamaan semua hal akan beralih dan terselesaikan lewat dunia maya. Ajang pertemuan fisik berpindah ke pertemuan maya, empati dan simpati hanya sebatas ucapan dan ungkapan bukan lagi tindakan. Interaksi yang terjalin dan yang diperoleh bukan lagi hubungan atau interaksi yang dalam/akrab. Hal tersebut manandakan hilangnya sifat-sifat manusiawi manusia yang peduli terhadap lingkungan dan sesamanya. Berkumpul, pertemuan fisik (silaturahmi, diskusi) yang semua hal itu dapat mengasah kepekaan sosial maupun kepekaan emosional semakin luntur karena kebanyakan manusia beralih pada pertemuan maya. Dampak yang paling terlihat adalah semakin tingginya sifat individualis dari seseorang.
Maka dari itu, dalam memanfaatkan teknologi baru seharusnya disertai dengan kebijakan dan pengetahuan. Sehingga, dapat mendatangkan manfaat dan sesuai dengan kebutuhan tanpa mengurangi nilai-nilai dan sifat-sifat manusiawi manusia. Teknologi dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan dan kinerja manusia tanpa menyamakan manusia sebagai mesin yang tidak memiliki nilai rasa
Internet Semakin Dekat Atau Menjauhi Manusia
Oleh: Dewi Wulansari (Mahasiswi Sastra Inggris UNDIP)
Internet khususnya situs jejaring sosial di dalamnya, mampu menjadikan manusia bebas mengungkapkan dirinya. Menurut Ludwig Feurbach, kata menjadikan manusia bebas. Siapa tak mampu mengungkapkan diri, ia tak lebih dari seorang budak. Bicara merupakan tindak kebebasan, kata adalah kebebasan itu sendiri. Jejaring sosial lewat internet seperti friendster, facebook, twitter, YM, skypy, blog, pluk dll mampu mengakomodir kebebasan berkata. Yang mana kebebasan berkata merupakan salah satu eksistensi manusia.
Internet dengan situs-situs jejaring sosialnya telah berhasil menangkap kebutuhan-kebutuhan manusia yang paling mendasar yaitu eksistensi dan bersosialisasi. Meskipun, sebenarnya eksistensi yang ditawarkan oleh jejaring sosial itu hanyalah keberadaan bentuk/wujud semunya. Namun, hal tersebut mampu membuat kita menunjukkan diri dalam sisi-sisi yang berbeda, bisa lewat tulisan, foto, komentar, chat dll. Sosialisasipun menjadi lebih mudah dan praktis bahkan ekonomis, sehingga permasalahan jarak, waktu, tenaga, dan biaya bisa terminimalisir. Internet telah membuat kedekatan baik secara emosional, kultural dan personal diantara pribadi satu dengan pribadi yang lain. Jejaring sosial-pun bisa termanfaatkan untuk pencarian link (teman, usaha, karir, jodoh). Hal ini menunjukkan bahwa internet mampu mendekati kebutuhan manusia.
Namun mesin dan penemuan baru ternyata tak bisa bicara apa-apa tentang manusia. Sehebat-hebatnya mesin dan pengetahuan, tetap tidak berpribadi. Kita tidak bisa melihat pribadi yang sesungguhnya dan sebenarnya hanya dengan melihatnya dari jejaring sosial. Karena pribadi seseorang itu tidak hanya bisa dinilai dari kata, ucapan/ungkapan dan fotonya. Pribadi seseorang yang sebenarnya hanya bisa kita lihat dalam penampakan wujud dan peran aslinya dalam bereksistensi dan bersosialisasi di dunia nyata bukan dunia maya. Cara berseksistensi dan bersosialisasi melalui internet, itu seperti kita bereksistensi dan bersosialisai dengan mesin. Yang mana kita akan sangat bergantung pada mesin, malas dalam bertindak dan belajar malas bertindak.
Jika cara bereksistensi dan bersosialisai dengan melalui dunia maya (internet) menjadi budaya, lama-kelamaan semua hal akan beralih dan terselesaikan lewat dunia maya. Ajang pertemuan fisik berpindah ke pertemuan maya, empati dan simpati hanya sebatas ucapan dan ungkapan bukan lagi tindakan. Interaksi yang terjalin dan yang diperoleh bukan lagi hubungan atau interaksi yang dalam/akrab. Hal tersebut manandakan hilangnya sifat-sifat manusiawi manusia yang peduli terhadap lingkungan dan sesamanya. Berkumpul, pertemuan fisik (silaturahmi, diskusi) yang semua hal itu dapat mengasah kepekaan sosial maupun kepekaan emosional semakin luntur karena kebanyakan manusia beralih pada pertemuan maya. Dampak yang paling terlihat adalah semakin tingginya sifat individualis dari seseorang.
Maka dari itu, dalam memanfaatkan teknologi baru seharusnya disertai dengan kebijakan dan pengetahuan. Sehingga, dapat mendatangkan manfaat dan sesuai dengan kebutuhan tanpa mengurangi nilai-nilai dan sifat-sifat manusiawi manusia. Teknologi dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan dan kinerja manusia tanpa menyamakan manusia sebagai mesin yang tidak memiliki nilai rasa
Kamis, 10 Februari 2011
Kebosanan hidup
Seorang pria mendatangi Sang Guru, “Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati”.
Sang Guru tersenyum, “Oh, kamu sakit”. “Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan ini. Itulah sebabnya saya ingin mati”. Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya. Sang Master meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan”.
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, dan yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari tentang sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita…
“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjuk-ku”. Demikian Sang Master menyarankan.
“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh”. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran Sang Guru.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh?? “ Kamu betul-betul ingin mati?” tanya Sang Guru
“Ya, memang saya sudah bosan hidup”, pria itu kukuh menjawab.
“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.” Perintah Sang Guru. Giliran pria tersebut bingung. Setiap Guru yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Sang Guru EDAN itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai !!!
Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarganya di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir ini malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya pun menjadi santai banget !
Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu. “Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!”
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!!
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Boss kita kok aneh ya ?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!
Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami.” Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?
Ia mendatangi Sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya Sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh?? Apa bila kau hidup dalam ke-kini-an, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan ini !!!
Leburkan egomu, leburkan keangkuhanmu, leburkan kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air, dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan pernah jenuh, tidak akan pernah bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan”..
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam ke-kini-an. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !!!
Hidup bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul tapi merupakan suatu anugerah untuk dinikmati. “Anda tidak akan pernah menang jika Anda tidak pernah memulai.”
Seorang pria mendatangi Sang Guru, “Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati”.
Sang Guru tersenyum, “Oh, kamu sakit”. “Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan ini. Itulah sebabnya saya ingin mati”. Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya. Sang Master meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan”.
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, dan yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari tentang sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita…
“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjuk-ku”. Demikian Sang Master menyarankan.
“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh”. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran Sang Guru.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh?? “ Kamu betul-betul ingin mati?” tanya Sang Guru
“Ya, memang saya sudah bosan hidup”, pria itu kukuh menjawab.
“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.” Perintah Sang Guru. Giliran pria tersebut bingung. Setiap Guru yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Sang Guru EDAN itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai !!!
Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarganya di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir ini malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya pun menjadi santai banget !
Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu. “Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!”
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!!
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Boss kita kok aneh ya ?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!
Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami.” Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?
Ia mendatangi Sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya Sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh?? Apa bila kau hidup dalam ke-kini-an, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan ini !!!
Leburkan egomu, leburkan keangkuhanmu, leburkan kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air, dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan pernah jenuh, tidak akan pernah bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan”..
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam ke-kini-an. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !!!
Hidup bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul tapi merupakan suatu anugerah untuk dinikmati. “Anda tidak akan pernah menang jika Anda tidak pernah memulai.”
Senin, 07 Februari 2011
5 Cara Mengendalikan Amarah
Author: Afit Husni K
Setiap orang tahu bahwa kemarahan itu bisa berdampak negatif, baik untuk dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya. Membuat kita tidak sehat, membuat orang lain berprasangka negatif terhadap kita bahkan sampai pada penolakan lingkungan atas kehadiran kita. Itu bisa saja terjadi.
[quote_right]Tuhan tidak menciptakan apapun tanpa ada sisi positifnya. Begitupun juga dengan rasa marah. Rasa marah memiliki energi yang sangat besar dan dahsyat.[/quote_right] Karena kemarahan tidak bisa dihindari, maka akan lebih baik jika kita bisa mengatasi dan mengendalikan energi kemarahan tersebut untuk diarahkan ke hal-hal yang lebih bermanfaat.
Berikut beberapa cara untuk membuat energi kemarahan menjadi lebih baik:
1. Olahraga. Aktifitas terbaik untuk membuat energi amarah berubah menjadi energi positif adalah berolahraga. Jadi, jika anda marah, segeralah ambil sepeda atau berlarilah berkeliling komplek perumahan, tentu saja pada waktu yang tepat.
2. Menulis. Saat anda marah, ambillah pensil dan kertas, tulislah kronologis mengapa anda marah, kemudian tuliskan bentuk kemarahan anda. So, anda bisa tetap melampiaskan kemarahan secara pasif, tanpa melukai perasaan orang lain yang ada di sekitar anda. Selain itu dengan menulis anda bisa tahu sebab kemarahan yang anda alami, dan pada akhirnya anda bisa menemukan solusi untuk mencegah kemarahan tersebut.
3. Memainkan drama. Yup, anda tidak salah baca, memainkan drama imajinasi lebih tepatnya. Anda bisa membayangkan mengapa anda marah, kemudian apa yang anda lakukan ketika marah. Nah setelah itu, ubahlah peran anda menjadi orang lain, entah teman, saudara yang menasehati anda supaya tidak marah.
4. Ubah Sudut pandang “saya” menjadi “kamu”. Jika marah, anda selalu merasa yang paling benar, dan sesuatu yang menyebabkan kemarahan anda pasti salah. Ubah sudut pandang anda, bayangkan anda menjadi orang lain yang sedang menghadapi anda yang sedang marah. Berpura-puralah menasehati diri anda sendiri.
5. Face-to-face terhadap kemarahan anda. Bercerminlah ketika anda marah, tatap mata anda secara langsung, dan bicaralah kepada diri anda sendiri. Lihatlah ekspresi kemarahan anda di cermin, kemudian nasehatilah diri anda sendiri dengan berbicara langsung pada bayangan anda.
Author: Afit Husni K
Setiap orang tahu bahwa kemarahan itu bisa berdampak negatif, baik untuk dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya. Membuat kita tidak sehat, membuat orang lain berprasangka negatif terhadap kita bahkan sampai pada penolakan lingkungan atas kehadiran kita. Itu bisa saja terjadi.
[quote_right]Tuhan tidak menciptakan apapun tanpa ada sisi positifnya. Begitupun juga dengan rasa marah. Rasa marah memiliki energi yang sangat besar dan dahsyat.[/quote_right] Karena kemarahan tidak bisa dihindari, maka akan lebih baik jika kita bisa mengatasi dan mengendalikan energi kemarahan tersebut untuk diarahkan ke hal-hal yang lebih bermanfaat.
Berikut beberapa cara untuk membuat energi kemarahan menjadi lebih baik:
1. Olahraga. Aktifitas terbaik untuk membuat energi amarah berubah menjadi energi positif adalah berolahraga. Jadi, jika anda marah, segeralah ambil sepeda atau berlarilah berkeliling komplek perumahan, tentu saja pada waktu yang tepat.
2. Menulis. Saat anda marah, ambillah pensil dan kertas, tulislah kronologis mengapa anda marah, kemudian tuliskan bentuk kemarahan anda. So, anda bisa tetap melampiaskan kemarahan secara pasif, tanpa melukai perasaan orang lain yang ada di sekitar anda. Selain itu dengan menulis anda bisa tahu sebab kemarahan yang anda alami, dan pada akhirnya anda bisa menemukan solusi untuk mencegah kemarahan tersebut.
3. Memainkan drama. Yup, anda tidak salah baca, memainkan drama imajinasi lebih tepatnya. Anda bisa membayangkan mengapa anda marah, kemudian apa yang anda lakukan ketika marah. Nah setelah itu, ubahlah peran anda menjadi orang lain, entah teman, saudara yang menasehati anda supaya tidak marah.
4. Ubah Sudut pandang “saya” menjadi “kamu”. Jika marah, anda selalu merasa yang paling benar, dan sesuatu yang menyebabkan kemarahan anda pasti salah. Ubah sudut pandang anda, bayangkan anda menjadi orang lain yang sedang menghadapi anda yang sedang marah. Berpura-puralah menasehati diri anda sendiri.
5. Face-to-face terhadap kemarahan anda. Bercerminlah ketika anda marah, tatap mata anda secara langsung, dan bicaralah kepada diri anda sendiri. Lihatlah ekspresi kemarahan anda di cermin, kemudian nasehatilah diri anda sendiri dengan berbicara langsung pada bayangan anda.
Sabtu, 29 Januari 2011
Kerendahan Hati Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendah hatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.
Kamis, 27 Januari 2011
MELACAK JEJAK DI RERIMBUN EMBUN
oleh Dimas Arika Mihardja pada 22 Januari 2011 jam 7:58
MELACAK JEJAK DI RERIMBUN EMBUN
bersamamu, aku tersesat di lebat senyum
kubaca setiap kata di papan nama
tak terbubuh Namamu di ruko
dan taman kota menguar aneka suara
bersamamu
di bawah beringin
kuurai peta perjalanan
menterjemahkan keinginan
di bawah guyur sisa hujan
tangantangan terulur
dan aku merasa getar kedamaian
embun dari matamu netes
membasuh dahaga mencinta
bengkel puisi swadaya mandiri
oleh Dimas Arika Mihardja pada 22 Januari 2011 jam 7:58
MELACAK JEJAK DI RERIMBUN EMBUN
bersamamu, aku tersesat di lebat senyum
kubaca setiap kata di papan nama
tak terbubuh Namamu di ruko
dan taman kota menguar aneka suara
bersamamu
di bawah beringin
kuurai peta perjalanan
menterjemahkan keinginan
di bawah guyur sisa hujan
tangantangan terulur
dan aku merasa getar kedamaian
embun dari matamu netes
membasuh dahaga mencinta
bengkel puisi swadaya mandiri
Langganan:
Postingan (Atom)