Senin, 22 November 2010

RAHASIA KEKUATAN SEL DAN ENERGI NUR ILAHI


Allah menciptakan manusia bermula dari sebutir sel, kemudian sel itu membelah diri menjadi dua, empat, delapan, enam belas, tigapuluh dua…… dan terus hingga jumlahnya menjadi milyaran. Allah memciptakan tubuh manusia dari kumpulan milyaran sel yang hidup. Setiap saat ada sel yang rusak dan mati kemudian digantikan dengan sel baru yang sehat dan segar. Sepanjang kehidupan kita akan terus menerus terjadi proses penggatian sel yang rusak dengan sel baru yang segar. Jika proses pergantian sel yang rusak dan mati ini terganggu maka tubuh kita akan menjadi sakit, tubuh akan dipenuhi dengan sel yang rusak dan mati. Apabila proses ini terus berlanjut dan proses penggantian sel yang rusak dengan sel baru terhalang atau berhenti sama sekali, maka tubuh akan menjadi rusak dan berlanjut dengan datangnya kematian.

Sel tubuh yang sehat dan kuat akan membentuk tubuh yang sehat dan kuat demikian pula sel tubuh yang sakit, lemah dan rusak akan membentuk tubuh yang lemah dan berpenyakitan. Untuk menjamin tubuh tetap sehat dan bugar kita harus menjamin bahwa proses penggantian sel yang lemah dan rusak atau mati didalam tubuh kita dengan sel baru yang sehat dan segar tetap berjalan dengan baik sepanjang masa. Sel yang sehat dan kuat mampu mengalahkan berbagai penyakit yang datang menyerang tubuh, dan menjaga agar organ tubuh tetap berfungsi dengan baik.

Tubuh yang memiliki sel lemah sangat rentan terhadap serangan berbagai penyakit degeneratif seperti darah tinggi, kolesterol, diabetes, gagal jantung, gagal ginjal, gangguan lambung, rematik, asam urat dan lain sebagainya. Tubuh juga sangat rentan terhadap serangan penyakit tumor, kanker, HIV dan penyakit harian seperti migrain, flu, batuk, letih, lesuh, tidak bergairah, dan cepat capek. Sel tubuh yang sehat dan kuat mampu mengatasi serangan berbagai penyakit seperti tersebut diatas.

Setiap sel hidup yang ada didalam tubuh kita memiliki energi yang disebut energi sel. Kuat tidaknya energi sel yang tersimpan didalam setiap sel menjadi tolok ukur bagi sehat atau tidaknya sel tubuh kita. Energi sel bisa dibangkitkan dan dipelihara dengan latihan tertentu. Guru Mufid seorang pakar Energi sel yang membuka sekolah informal pelatihan energi sel di Jogyakarta menjelaskan bahwa ada tiga cara untuk membangkitkan dan merawat energi sel didalam tubuh kita yaitu dengan latihan olah nafas (Daya Prana), menyerap energi alam (Reiki) dan melakukan amalan ilmu hikmah seperti puasa, wirid dan lain sebagainya. Dengan menggabungkan ketiga metode tersebut kita bisa membangkitkan dan merawat energi sel yang tersimpan dalam setiap sel tubuh kita dan mempercepat proses penggatian sel yang rusak atau mati dengan sel baru yang kuat, sehat dan segar.

Berbagai penyakit yang diderita manusia umumnya terjadi karena kekagagalan tubuh dalam mengatisipasi berbagai penyakit dan virus yang datang menyerang. Penyakit juga bisa muncul akibat kekacauan metabolisme tubuh, kegagalan fungsi organ tubuh seperti jantung, liver, ginjal, lambung, pankreas dan munculnya sel liar seperti kanker dan tumor. Jika tubuh terlanjur mendapat serangan berbagai penyakit diatas efek penyakit tersebut bisa dikurangi bahkan disembuhkan dengan menggunakan energi sel yang dibangkitkan didalam tubuh setiap orang.

Ada beberapa faktor yang amat berpengaruh terhadap energi sel didalam tubuh manusia antara lain fikiran dan perasaan, pola isirahat, pola makan, dan olah raga yang teratur. Berfikir dan merasa positip akan membangkitkan energi positip pada sel, berfikir dan merasa negatip akan menimbulkan kerusakan, kelemahan dan berakhir dengan matinya sel tersebut hal ini disebut juga sebagai munculnya energi negatif pada sel. Fikiran dan perasaan negatif antara lain merasa sedih, kecewa, dengki, jengkel, menderita, tertekan, terhina, dikucilkan. Fikiran dan perasaan positif antara lain, gembira, puas, ridho, ikhlas, bahagia, mulia dan dihargai, dihormati, dan lain sebagainya. Perhatikan apa fikiran dan perasaan yang menguasai fikiran dan hati anda semua itu akan berpengaruh pada energi yang muncul didalam sel tubuh anda.

Istirahat yang cukup, makan secukupnya dan tidak berlebihan diiringi dengan olah raga yang teratur dapat membangkitkan energi posisitip pada biosel. Sebaliknya kurang istirahat, makan tidak teratur dan berlebihan, serta tidak pernah berolah raga dapat menimbulkan kekacauan pada energi Sel. Sehingga sel tubuh menjadi lemah, sakit, rusak dan pada akhirnya akan mati. Seharusnya sel yang mati segera digantikan dengan sel baru yang sehat, kuat dan segar, namun karena sel tubuh yang ada dipenuhi oleh energi negatif maka proses penggantian dengan sel baru berjalan lambat atau malah gagal sama sekali. Jika hal ini dibiarkan terus menerus tubuh akan dipenuhi oleh sel yang rusak dan berbagai penyakit yang mendatangkan rasa tidak nyaman.

orang-meditasi

Banyak cara dilakukan orang untuk mempertahankan dan meningkatkan energi sel didalam tubuh masing masing antara lain dengan latihan olah nafas seperti senam taichi, waitankung, senam tera, meditasi, yoga, Reiki, membaca wirid dzikir, sholat khusuk, tadabbur Qur’an, puasa, dan lain sebagainya. Kondisi fisik yang lemah, sakit-sakitan , tidak memiliki gairah hidup, menggambarkan kondisi sel tubuh yang lemah. Dengan merubah pola fikir, perasaan dan melakukan latihan seperti diatas energi sel akan bangkit dan merubah kondisi fisik menjadi sehat, penuh gairah dan semangat hidup.

Membangkitkan energi sel dalam tubuh.

Tubuh manusia terdiri atas unsur fisik (materi) dan ruhani, setiap sel tubuh manusia juga terdiri atas unsur materi dan ruhani . Latihan fisik dan olah nafas akan menguatkan unsur fisik dari sel tubuh manusia, sedang do’a, wirid dan kalimat affirmasi yang dibaca akan menguatkan unsur rohani dari sel tersebut. Dengan menggabung latihan olah nafas, olah fikiran dengan do’a, wirid dan kalimat affirmasi, unsur fisik dan rohani sel tubuh akan menjadi kuat dan memancarkan energi yang disebut energi sel. Energi tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Orang yang memiliki energi sel kuat dan prima insya Allah memiliki daya tahan yang tinggi terhadap serangan berbagai penyakit, dan memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri dan orang lain dari berbagai penyakit yang dideritanya. Unsur Fisik atau materi dari energi sel akan musnah bersamaan dengan hancurnya jasad ketika datangnya kematian. Sedangkan unsur rohani dari energi sel ini merupakan Energi Nur Ilahi yang akan tetap abadi mengikuti unsur Ruh manusia yang tetap hidup didalam barzakh, dan padang mahsyar kelak. Energi ini akan terlihat sebagai cahaya yang memancar dari tubuh orang mukmin pada hari berbangkit sebagaimana disebutkan dalam surat At Tahrim ayat 8 :

Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (At Tahrim 8 )

Unsur rohani (spiritual) dari Energi sel merupakan Nur Ilahi yang bersifat kekal dan tetap menyertai Ruh kemanapun ia pergi. Setelah datang kematian Ruh masih terus melanjutkan perjalanan hidupnya dialam barzakh, kemudian pada hari berbangkit akan dikumpulkan dipadang Mahsyar dan setelah dihisab terus melanjutkan perjalananya menyeberangi lautan api Neraka yang amat panas, selanjutnya berdiam di taman syurga yang tinggi, atau akan tetap tinggal didalam api Neraka yang amat panas. Energi Nur Ilahi melindungi orang yang bersangkutan dalam perjalanan panjang tersebut. Itulah energi yang kekal dan abadi sebagaimana disebutkan dalam surat an Nahl ayat 96 :

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An Nahl 96)

Guru Mufid seorang pakar kesehatan di Jogyakarta telah menemukan formulasi pelatihan untuk membangkitkan energi sel ini. Beliau menggabungkan metode meditasi olah nafas, Reiki dan, ilmu hikmah yang memanfatkan do’a serta wirid untuk membangkitkan energi tersebut dan menamakan metode tersebut dengan QUANTUM PSIKOTERAPY ILLAHI TRAINING (QPIT). Metode ini sangat mudah dipelajari karena sesuai dengan akal sehat, alamiah juga tuntunan agama dan sudah dikenalkan ke masyarakat di Yogya dan sekitarnya sejak tahun 2003. Sampai sekarang sekolah informal olah jiwa dan energi sel QUANTUM PSIKOTERAPY ILLAHI TRAINING (QPIT). yang beliau dirikannya sudah mendidik banyak masyarakat dari berbagai profesi mulai dokter, psikolog, pengacara, ulama, pengusaha, pegawai negeri, dosen, guru, karyawan swasta, mahasiswa hingga anak SMP yang tersebar diberbagai kota di Indonesia. Ilmu ini merupakan inti sari dari 3 ilmu utama dalam dunia metafisik yaitu prana, reiki dan ilmu hikmah. Oleh karena itu sangat cocok dipelajari oleh praktisi keilmuan yang belum menemukan format keilmuannya ,metode ini sangat mudah dipelajari .

http://www.fadhilza.com/2009/12/tadabbur/rahasia-kekuatan-sel-dan-energi-nur-ilahi.html#more-901
TEHNIK PENGOLAHAN NAPAS DZIKRULLAH
Oleh Fadhil ZA

Bernapas adalah kebutuhan utama setiap mahluk hidup. Manusia bisa bertahan tidak makan dan minum sampai beberapa hari, namun tidak demikian halnya dengan bernapas. Umumnya manusia hanya mampu menahan napas paling lama selama satu menit. Orang - orang tertentu seperti penyelam, penyanyi atau Qori’ mampu bertahan lebih lama lagi hingga 2 s/d 5 menit. Tentu saja mereka bisa menahan napas sedemikian lama setelah melalui pelatihan dalam waktu yang cukup lama. Otak dan otot jantung manusia akan mengalami kerusakan jika tidak mendapat oxigen lebih dari 5 menit.

Tehnik pengendalian napas diperlukan untuk meningkatkan konsentrasi dan stamina. Perenang, pelari cepat, pelari marathon, petinju, pesilat, penyanyi semuanya mempunyai tehnik pengendalian napas sendiri dibidangnya. Tehnik pernapasan perenang tentu tidak sama dengan penyanyi demikian pula tehnik pernapasan pelari cepat tentu tidak sama dengan tehnik pernapasan pelari marathon. Tehnik pengolahan napas untuk membangkitkan tenaga dalam tentu tidak sama dengan tehnik pengolahan napas seorang penyanyi. Meditasi, yoga, thaici, pelatihan tenaga dalam, penyanyi semua mempunyai tehnik pernapasan sendiri dibidangnya.

Bagaimana tehnik pengolahan napas dapat meningkatkan konsentrasi dan stamina dapat kita lihat dalam contoh kehidupan sehari hari. Seorang ibu yang harus memasukan benang kelubang jarum akan lebih mudah memasukan benang tersebut jika dilakukan sambil menahan napas. Demikian pula seorang penembak atau pemanah, ia akan lebih berkonsentrasi jika saat membidik dilakukan sambil menahan napas. Kalau anda naik ayunan atau kora-kora di Ancol , pada saat ayunan turun anda disarankan untuk berteriak atau menahan napas, jika anda tidak menahan napas atau berteriak niscaya dalam waktu singkat anda akan muntah dan mabuk. Olah ragawan angkat berat juga dianjurkan untuk menahan napas ketika sedang mengangkat beban, jika ia tidak melakukan hal tersebut bisa berakibat serius bagi tubuhnya.

Pengolahan napas dzikrullah

Dzikir mengingat Allah dan berdo’a pada-Nya adalah kegiatan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Allah sangat mencintai orang yang banyak berdo’a dan selalu berdzikir mengingat-Nya. Kendala utama dalam melakukan kegiatan dzikir dan do’a adalah rasa mengantuk, tidak bisa konsentrasi, perasaan bosan dan kaki semutan atau kram, sehingga jarang orang yang sanggup melakukan kegiatan dzikir secara rutin dalam waktu yang lama. Dengan tehnik pengaturan napas yang tepat dan benar semua kendala tersebut bisa diatasi sehingga anda bisa melakukan kegiatan dzikir dan do’a dalam waktu yang cukup lama tanpa merasa mengatuk, bosan atau kaki semutan. Kegiatan dzikir dan do’a terasa mengasyikan dan menyenangkan , sehingga anda sanggup melakukan kegiatan tersebut secara rutin setiap hari.

Dzikir bisa dilakukan dengan menyebut Asmaulhusna, kalimat hasballah , syahadat atau sholawat Nabi diiringi dengan do’a yang diambil dari ayat Qur’an , hadist atau do’a dalam bahasa ibu masing masing. Selama melakukan dzikir dan do’a napas diatur sedemikian rupa sehingga ketika menarik napas paru paru terisi penuh sempurna dan ketika menghembuskan napas paru paru kosong sempurna pula. Ketika menghirup udara kita menghirup oxigen dari udara memenuhi paru-paru selanjutnya oxigen tersebut diangkut oleh darah keseluruh tubuh memenuhi kebutuhan seluruh sel ditubuh kita. Disamping oxigen kita juga menghirup energi kehidupan atau energi hayati yang biasa juga disebut energi Prana, Ki, atau Chi. Energi hayati diserap oleh otak besar kemudian dialirkan melalui saluran saraf ditulang belakang keseluruh tubuh.

Tarik napas perlahan lahan sambil membaca kalimat asmaulhusna misalnya “ya Rahman” , setelah paru paru penuh dengan udara tahan napas dengan mengeraskan otot perut sambil tetap membaca kalimat asmaulhusna tersebut, tahan selama yang bisa dilakukan, kemudian hembuskan napas sambil berdo’a misalnya :
”birohmatika ya arhamarrohimin irhamna” .

Selama menarik, menahan dan menghembuskan napas fikiran dan hati dikonsentrsasikan serta fokus pada kalimat dzikir dan do’a yang dibaca. Rasakan juga energi hayati yang diserap otak besar dan dialirkan pada saluran syaraf di tulang punggung keseluruh tubuh. Ini hanya salah satu contoh dari dzikir pernapasan asmaulhusna. Dalam pelatihan yang kami adakan anda akan dilatih melakukan tehnik pernapasan dengan beberapa kalimat asmaulhusna dan manfaat yang didapat dari dzikir tersebut.

Tehnik yang sama bisa dilakukan untuk dzikir tadabbur Qur’an. Dimana ketika menarik napas bacalah kalimah syahadat ,salawat Nabi , atau kalimat hasballah. Selanjutnya ketika menahan napas baca ayat Qur’an tertentu yang akan ditadabburi. Ketika menghembuskan napas baca do’a yang sesuai dengan ayat yang anda baca ketika menahan napas tadi. Semua metode ini akan lebih jelas lagi jika anda mengikuti pelatihan yang kami adakan. Anda bisa menterapi diri anda dengan ayat Qur’an yang anda baca, sehingga ahlak dan pribadi anda akan terbentuk oleh Al-Qur’an. Terapi dzikir tadabur Qur’an bermanfaat untuk menghilangkan berbagai sifat buruk dan negatif dari diri anda, menambah kedekatan anda dengan Allah pencipta alam semesta, meningkatkan iman dan taqwa, menyiapkan perbekalan untuk kehidupan akhirat membangkitkan semangat kerja dan optimisme menghadapi berbagai masalah kehidupan, dan banyak lagi manfaat lainnya.

Pengolahan napas dalam sholat

Dewasa ini banyak kita temui orang yang mengerjakan sholat hanya sekedar memenuhi kewajiban saja, mereka mengerjakan sholat hanya sebagai ritual rutin yang kadangkala dilakukan dengan setengah hati. Berdiri , rukuk dan sujud kadangkala mereka lakukan dengan tergesa gesa tanpa ,memperhatikan tu’maninah yang diajarkan Rasululullah.
Dengan pengaturan napas yang tepat dan benar dan memahami detiap ayat dan kalimat yang dibaca dalam sholat diharapkan anda bisa melakukan sholat dengan tenang, tidak tergesa gesa dan sesuai dengan tu’maninah yang diajarkan Rasulullah. Pada prinsipnya selama sholat lakukanlah pernapasan dengan perlahan dan sempurna. Ketika menarik napas paru paru diisi penuh sempurna, dan ketika menghembuskan napas paru paru kosong sempurna. Dengan pernapasan yang dilakukan secara perlahan dan tenang anda akan terhindar dari sifat tergesa gesa dalam sholat.

Pernapasan sempurna akan meningkatkan konsentrasi anda fokus pada ayat yang dibaca, disamping itu juga meningkatkan kadar oxigen yang diserap darah dari paru paru. Peningkatan kadar oxigen dan gerakan yang tenang akan memberikan relaksasi dan meningkatkan kesegaran tubuh. Selama dan selesai sholat anda akan merasakan kesegaran yang mengalir disekujur tubuh. Insya Allah sholat akan dirasakan sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan dan mengasyikan sehingga sholat tidak lagi dirasakan sebagai beban tapi sholat sudah dirasakan sebagai suatu kebutuhan.

Dalam pelatihan sholat khusuk yang kami adakan disamping tehnik pengolahan napas anda juga akan dilatih untuk menyamakan lisan , fikiran dan hati didalam sholat sehingga anda bisa mengerjakan sholat dengan khusuk. Kebanyakan orang tidak bisa khusuk dalam sholat mulutnya mengatakan A, fikirannya membayangkan B dan hatinya merasakan C. Padahal diluar sholat mereka sudah biasa mengalami kondisi khusuk, misalnya ketika mereka sedang berbicara dengan seseorang melalui handphone pasti yang diucapkan, dibayangkan oleh fikiran dan dirasakan hatinya sama.


Dzikir Pernapasan

Untuk membuka pintu rezeki , kemuliaan dan kelapangan hidup lakukanlah dzikir pernapasan tadabbur Qur’an sebagai berikut dibawah ini. Waktunya bisa dipilih sesudah sholat, pagi hari , sore hari atau menjelang tidur. Usahakan memakai pakaian yang longgar , sehingga tidak mengganggu ketika melakukan kegiatan olah napas.

Ketika menarik napas baca kalimat hasbalah :
Hasbiayallahu wani’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashir. Wakafa billahi waliyya , wakafa billahi syahida, wakafa billahi wakiila, wakafa billahi nashiroo
Cukup Allah bagiku Dia sebaik baik pelindung, sebaik baik pemimpin dan sebaiki baik penolong. Cukup Allah sebagai pemimpin, cukup Allah sebagai saksi, cukup Allah sebagai pelindung, cukup Allah sebagai penolong.

Bisa juga dibaca dua kalimah sahadat dan sholawat seperti pada saat duduk tahiyat akhir.

1. Ketika menahan napas baca salah satu dari ayat Qur’an sebagai berikut didalam hati :

AL – ISRAAK AYAT 30

Inna robbaka yabsuthu rizqo limayyasyaa’u wa yaqdir Innahuu kaana bi ibadihi khobiirom bashiiro
Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
(Al Israak 30)

AL ANKABUT 62

Allahu yabsuthu rizqo limayyasyaa’u wa yaqdir Innallaha bikulli syai’in aliim
Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(Al Ankabut 62)

AS SYURA 12

Lahuu maqooliidus samaawaati wal ardhi . Yabsuthur rizqo limayyasyaa’u wayaqdir. Innahuu bikulli syai’in alimm

Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.(As-Syuraa 12)

Ketika menghembuskan napas baca Do’a tadabbur :
Ya Allah kepunyaan Engkaulah perbendaharaan kekayaan dilangit dan bumi , Engkaulah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Engkau kehendaki hamba mohon padaMu, lapangkan rezeki hamba (kami) selapang lapangnya, jangan Kau sempitkan rezeki hamba (kami), jangan Kau sempitkan hidup hamba (kami), Engkau maha mengetahui dan maha melihat keadaan kami, perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah.

Manfaat nya:
• Membuka jalan dan pintu rezeki bagi orang yang dalam kesempitan hidup
• Melindungi diri dari kefakiran dan kemiskinan
• Hidup berkecukupan dan selalu terpenuhi hajat dan kebutuhannya

2. Ketika menahan napas baca surat Fathir ayat 2, sebagai berikut didalam hati :


Maa yaftahillahu linnaasi mirrohmatin falaa mumsika laha, wamaa yumsik falaa mursilalahu mimbad’dihi wahuwal azizul hakim

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(Fathir 2)

Ketika menghembuskan napas baca Do’a tadabbur :
Ya Allah apa –apa Rahmat yang Kau bukakan bagi kami tidak ada seorangpun yang dapat mencegahnya, dan apa saja yang Kau tahan dari kami tidak seorangpun yang sanggup membukakannya. Ya Allah bukakan bagi kami pintu rahmat dari sisiMu dengan seluas luasnya, jangan Kau tahan Rahmat dan karuniaMu bagi kami ya Allah, Engkau maha Perkasa lagi maha Bijaksana, perkenankan permohonan kami ini ya Allah.
Manfaatnya antara lain :
• Mendapat rahmat dan karunia dari Allah
• Mendapat kelapangan hidup, dan terpenuhi semua hanjat dan kebutuhannya
• Terpelihara dari fitnah dan kejahatan orang yang dengki
• Terpelihara dari kefakiran, kemiskinan dan kesempitan hidup

3 . Ketika menahan napas baca surat Ibrahim ayat 32 :

Allahulladzii kholaqossamawaati wal ardho wa anzala minassamaa’i maa anfa akhroja bihii minaatsamarooti rizqollakum . wa sakhorolakumul fulka litajriya fil bahri bi amrihi . wa sakhorolakumul anhaar
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. (Ibrahim 32)

Ketika menghembuskan napas baca do’a tadabbur:

Segala puji bagiMu ya Allah yang telah menjadikan langit dan bumi dan menurunkan hujan bagi kami dari langit , segala puji bagiMu ya Allah yang telah mengeluarkan bagi kami bermacam macam buah buahan sebagai rezeki , dan telah menundukan bahtera yang berlayar dilaut , dan sungai sungai untuk keperluan kami. Ya Allah bukakan bagi kami pintu rezeki dari segala penjuru yang Kau berkahi , bukakan bagi kami pintu rezeki dari langit dan bumi , lapangkan hidup kami selapang lapangnya perkenankan permohonan kami ini ya Allah

Manfaatnya antara lain :

Menamankan kesadaran tentang kebesaran dan kekuasaan Allah

Menamankan kesadaran bahwa Allah yang memberi kehidupan bagi segala mahluk yang ada dilangit dan bumi

Memberi kesadaran bahwa Allahlah yang memberi rezeki pada sekalian mahluk yang ada dilangit dan bumi

Mendapat kecukupan dan kelapangan hidup serta rezeki berlimpah dari sisi Allah
Terpelihara dari kefakiran , kemiskinan dan kemelaratan hidup

4 Ketika menahan napas baca surat Al Israak ayat 70 :

Walaqod karamna bani aadama wahamalnaahum fil barri wal bahri warozaqnaahum minathoyyibaati wa fadholnaahum alaa katsirom mimman kholaqnaa tafdhiilaa
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
(Al Israak 70)

Ketika menghembuskan napas baca do’a tadabbur sebagai berikut didalam hati :
Ya Allah Engkau telah memuliakan bani adam dan mengangkut mereka didarat dan dilautan, dan Kau beri mereka rezeki dari yang baik baik, dan Kau lebihkan mereka dari kebanyakan mahluk yang kau ciptakan. Ya Allah kami mohon padaMu beri kami kemuliaan dan rezeki yang berkah dari sisiMu, beri kami kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang kau ciptakan, Karuniai kami pemberian sebagaimana yang telah kau janjikan dalam Qur’anMu yang agung ini ya Allah, perkenankanlah permohonan kami ya Allah.

Manfaatnya antara lain:

Menanamkan kesadaran betapa Allah telah memuliakan manusia lebih dari mahluk ciptaannya yang lain

Menamankan kesadaran bahwa Allah yang memberi rezeki dan kemuliaan kepada manusia dan mahluk lainnya

Mendapat kemuliaan dan rezeki yang berkah dari sisi Allah

Mendapat kemudahan dan kelapangan hidup

Terpelihara dari kefakiran, kemiskinan dan kemelaratan hidup
Agar anda dapat melaksanakan dzikir pernapasan tadabbur Qur’an ini dengan tepat dan benar , kami sarankan agar anda mengikuti pelatihan yang kami adakan sesuai jadwal di blog ini.

Insya Allah anda bisa menterapi diri anda untuk memperbaiki mutu kehidupan, meraih sukses dan kemenangan serta mendekatkan diri pada Allah.
http://www.fadhilza.com/2010/05/tadabbur/dzikir-pernapasan-tadabbur-qur%E2%80%99an-untuk-membuka-pintu-rezeki-kelapangan-dan-kemuliaan-hidup.html#more-1190

http://www.fadhilza.com/2010/04/tadabbur/tehnik-pengolahan-napas-dzikrullah.html#more-1156

Minggu, 21 November 2010

Para penulis Itu Seperti Siput....







“Kami, para penulis, tulis Camilo Jose Cela, pengarang besar Spanyol yang meraih hadiah nobel 1989, hidup hampir seperti siput, yang sesekali mengeluarkan leher kami, tetapi lalu langsung menariknya kembali.” Apa yang dikatakan Cela sungguh tepat: untuk bisa merenungkan renik-pelik persoalan yang menghampar di bumi manusia ini, dan kemudian menghadirkannya ke dalam sulaman permadani kata-kata, seorang penulis perlu terlebih dulu menarik diri dari kancah orang ramai dan riuh rendah kehidupan sehari-hari. Di ruang kerjanya, seorang diri dengan hanya dikelilingi oleh tenaga kesunyian yang dahsyat. Dari hari ke hari, sang penulis mesti bergulat dengan pikirannya, dengan kebahagiaan dan kepedihan yang merundung diri dan sesamanya, dengan cahaya yang menyemburat dari kata-katanya. Tanpa ketabahan dan kegigihan yang keras kepala semacam ini, seorang penulis tak akan pernah bisa melahirkan karya-karya yang agung dan bermartabat.

Namun sejatinya, seorang penulis tak pernah sendirian benar. Sebelum mampu mencipta dunia-dunia baru dalam karyanya, dia akan dipandu dan ditemani oleh karya-karya para pendahulunya, oleh buku-buku orang lain, oleh kisah-kisah orang lain, oleh kata-kata orang lain. Sesiapa yang ingin jadi penulis mesti sadar betul bahwa mengandalkan bakat alam serta percikan inspirasi saja tidaklah cukup. Terlebih dahulu dia mesti menjelajah dan melakukan ekspedisi ke alam pikiran orang lain, menyibak dan mengupas kisah-kisah orang lain. Setiap halaman buku adalah jendela. Seseorang bisa mengintip aneka hal dari jendela itu: bangkit dan runtuhnya dinasti, suku-suku asing dan pelbagai ras yang unik, perkelahian manusia yang sia-sia melawan waktu, percintaan yang menggetarkan, binatang-binatang yang ganjil, batu-batu tak bernama, secercah warna kupu-kupu atau setangkai bunga lili yang mekar sendirian di lembah sunyi. Dengarlah pengakuan Jean Paul Sartre dalam otobiografinya yang bertajuk Les Mots: “Buku-bukulah yang menjadi burung dan sarangku, binatang piaraanku, kandang berikut seluruh dunia pedesaanku.” Dengan sayap buku-buku seseorang bisa terbang menembus tingginya angkasa pengetahuan, menghirup oksigen jernih yang mengambang di atas pedesaan kata-kata, atau menyelam jauh ke bawah laut, menemukan spesies-spesies langka dan pasir kearifan yang telah dihimpun umat manusia selama berabad-abad. Dalam penerbangan dan penyelaman itu, indra-indra dan pikiran mesti terus awas dan peka; sang penulis mesti tahu kapan saat meraba, mendengar, mencium, memeluk atau melepas, mengalah atau menantang, bersembunyi atau bertarung dengan kata-kata. Kalau tidak, bisa-bisa dia terkecoh dan tersesat di hutan lambang yang menyesatkan, atau terbutakan oleh dunia menyilaukan yang tiba-tiba terbentang tak terduga di hadapannya.

Adakalanya sang penulis juga mesti bersabar, sebab perjalanan dengan buku-buku kadang sulit dan berat, seperti mengarungi tempat tak berpeta dan tanpa rute yang jelas. Penuh ranjau, onak, dan duri. Sehingga boleh jadi setelah sang penulis suntuk dari detik ke detik, dari jam ke jam, rimba kata-kata dan lambang-lambang itu masih saja gelap dan tak menyingkapkan misterinya, rahasianya. Dalam satu pasase hidupnya sebagai penerbang dan penyelam kata-kata, Sartre pun tak luput dari deraan kesulitan itu. Kenangnya: “Berbaring di permadani, kulakukan perjalanan-perjalanan yang berat ke tengah karya-karya Fontenelle, Aristophanus dan Rebelais: kalimat-kalimat berkutat di hadapanku seperti benda-benda hidup; mereka harus kuamati; aku mengelilinginya, pura-pura kujauhi dan tiba-tiba kembali agar bisa mengagetkan mereka di saat lengah: pada umumnya kalimat-kalimat itu tidak bisa membuka rahasia dirinya.” Berat dan sulitnya perjalanan itu, tak boleh membuat sang penulis menyerah dan surut, sebab jika demikian dia adalah pengecut, baik dalam darahnya maupun dalam jiwanya. Seorang penulis mesti terus meluaskan batas-batas kesadarannya, membentangkan layar dan merambah lautan-lautan dan kemungkinan-kemungkinan baru, memasuki goa-goa batin yang keramat dan terlarang, menyimak dan kemudian menyenandungkan lagu-lagu kemanusiaan yang telah terkubur atau tertekan. Semangat pencarian dan petualangan seorang penulis mesti seperti ombak yang, tiap-tiap kali pecah membentur batu karang, tiap-tiap kali datang lagi dengan tenaga dan hempasan-hempasan yang lebih kuat. Kelak, setelah selama bertahun-tahun mengurung diri di dalam kamar bersama buku-bukunya dan menapaki perjalanan panjang dan jauh ke (dan di) dalam batinnya sendiri, seorang penulis, kata sastrawan raksasa dari Turki, Orhan Pamuk, dalam kuliah nobelnya yang mengharukan “My Fathers Suitcase”: “akan menemukan kekuatan abadi sebuah karya sastra; ia akan menguasai kepiawaian untuk menyampaikan cerita-cerita sendiri seakan-akan telah menjadi cerita-cerita orang lain, dan untuk menyampaikan cerita-cerita orang lain seakan-akan sudah menjadi ceritanya sendiri. Dan untuk inilah sastra itu ada. Tetapi kita memang harus menjelajahi cerita-cerita dan buku-buku orang lain itu terlebih dahulu.”

Beberapa abad sebelum Sartre dan Pamuk, yakni sekitar medio abad ke-16, hidup seorang penerbang dan penyelam kata-kata yang ulung, bernama Michel de Montaigne. Tatkala seantero bumi Prancis—dan juga Eropa—tengah dicekam perang agama yang berdarah-darah dan tak berkesudahan, Montaigne menarik diri dan lalu menghabiskan seluruh hidupnya di perpustakaan pribadinya yang terletak di lantai tiga menara, nun jauh di pedalaman barat daya Prancis, di puncak bukit 30 mil, timur Bourdeaux. Perpustakaan itu mempunyai tiga jendela, sebuah bangku, kursi, dan tiga rak tingkat lima agak melingkar, berisi lebih dari seribu volume tentang filsafat, sejarah, puisi, dan agama. Di sinilah bangsawan paruh baya itu ber-uzlah dan mengurung diri, menyaksikan ketabahan Socrates dalam menghadapi para juri Athena, menyimak pandangan Epicurus mengenai kebahagiaan, menikmati humor-humor Seneca, membaca dengan khusuk Metamorphoses karya Ovid, atau terpukau oleh Tusculan Disputations-nya Cicero. Kelak, hasil dari pelancongan Montaigne yang panjang dengan buku-buku dan kepak imajinasinya itu menghasilkan sebuah genre tulisan yang baru, yang kita kenal dengan sebutan Essay.

Cela, Sartre, Pamuk, Montaigne, juga para pengarang besar lainnya: merekalah suri bagi siapapun yang ingin menempuh jalan sunyi menjadi penulis. Mereka telah menempuh petualangan yang jauh nan berbahaya untuk menemukan pulau-pulau kosong tempat rumah-rumah imajinasi ditegakkan dan dipelihara, gagasan-gagasan ajaib mengembang dan bercahaya, pohon-pohon impian tumbuh dan menjulang menakjubkan. Dan di manapun terdapat kegersangan atau ketandusan, maka para pengarang bakal datang menurunkan hujan rahmat dan menebarkan benih-benih harapan. Benih-benih harapan yang kelak akan menjelma kota-kota peradaban masa depan, yang tersusun dari kata-kata kita yang paling rahasia, bisikan-bisikan dan mimpi-mimpi kita, kerja keras kita, darah kita, cinta kita, sejarah kita. Begitulah yang telah terjadi, dan akan selalu tetap begitu!



catatan: tulisan ini udah lama kutulis, sekitar 7 bulan yg lalu...di muat di mjlh gong kyknya.sy teringt tulisan ini lagi setelah berbincang dengan sahabat saya,irianto ibrahim dari buton, tentang pohon dan silisilah kepengarangan, visi menulis, dan kinerja para penulis yg layak atau tak layak di contoh. kepada teman2 sesama penulis, mari bekerja lebih keras lagi, bukit2 masih menjulang di kejauhan, kita blm lagi apa apa....semangat!

Kamis, 18 November 2010

"Cukupkanlah dirimu dengan tiga hal. Pertama, sesungguhnya di antara sekian banyak kenikmatan dunia cukuplah islam sebagai nikmat untukmu. Kedua, di antara sekian banyak kesibukan, cukuplah ketaatanmu kepada Allah sebagai kesibukan bagimu. Dan ketiga, di antara sekian banyak pelajaran, cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu.". (Ali bin Abi Thalib

romansa merah jambu-kurnia usman

Bagi Gadis, menyendiri di tepi danau, menunggu seseorang yang pernah berjanji padanya tidak cuma bingung dan termenung.
Dia pergi ke tepi danau di tengah hutan setelah usai memanen padi ladang bersama Bapak dan Emak. Bila akan pergi ke tepi danau berair biru jernih itu, dia tak lupa membawa beberapa lembar kain belacu putih dan peralatan menyulam. Di keheningan tepi danau tercium olehnya harum bunga mawar hutan. Dia dengar nyanyian burung dan hiruk pikuk kawanan kera. Dia melihat gelepar ekor ikan di permukaan danau. Air beriak bagaikan tersibak. Di atas tebing, daun pepohonan sangat rimbun—bercermin di air danau yang bening.

Sekian tahun silam, menjelang petang, seorang pelukis tua berjanggut lebat, dan putranya datang dari kota ke ladang di tepi hutan itu. Pemuda tampan itu menyetir mobil jip tua dan membantu sang ayah membawa peralatan melukis. Bapak dan Emak Si Gadis mengizinkan Si Pelukis dan putranya memasang tenda di tepi ladang. Perupa itu berniat melukis fauna dan flora di hutan sekitar itu. Dia juga mau melukis peladang, pengail ikan di sekitar danau, mawar hutan, dan pemandangan alam.

Semula, Bapak dan Emak agak ragu untuk mengizinkan Si Pelukis dan putranya mendirikan tenda di tepi ladang mereka. Berkat perilaku santun kedua tamu, hati orangtua Gadis luluh. Keramahtamahan Si Pelukis dan putranya menjadikan mereka cepat akrab. Usia putra Si Pelukis dan Gadis hampir sebaya.

Setelah mendirikan tenda, Si Pelukis minta tolong kepada Emak untuk memasak makanan buat sarapan, makan siang, dan malam—selama mereka bermukin di tepi ladang yang lengang itu. Bapak mengizinkan Emak memasak untuk mereka. Si Pelukis menyerahkan sejumlah uang untuk belanja kepada Emak. Uang itu ditolak Emak. Tetapi, setelah dibujuk berulang-ulang oleh Si Pelukis dengan sabar dan manis, akhirnya uang yang cukup banyak itu diterima Emak. Giliran Gadis menolak uang itu. Katanya, tidak pantas tamu membayar makan kepada tuan dan nyonya rumah. Si Pelukis mengatakan kepada si perawan cantik itu, ”Aku dan putraku bukanlah tamu keluarga di ladang ini. Kami tidak mau membebani keluarga ini. Uang itu tak seberapa. Ya, itu hanya sekadar tanda terima kasih. Kalau pemberian kami itu ditolak, sama dengan keluarga ini tidak ikhlas menerima kami,” lanjut Si Pelukis, lirih.

Setelah Si Pelukis dan putranya masuk tenda, Gadis menggerutu kepada Emak.

”Uang pemberian Si Pelukis itu akan membuat Bapak, Emak, dan aku berutang budi kepada Si Pelukis. Keluarga kecil kita ini bisa disangka mata duitan,” sambungnya. Bapak mengatakan, uang itu sebagai tanda terima kasih. Tidak elok menolak ucapan terima kasih dari seseorang, lanjut Bapak. Sejak saat itu, Gadis diam. Dia pergi ke tepi danau dan menyulam.

Selesai sarapan pagi, esoknya, Si Pelukis mengatakan kepada Bapak, beberapa hari ini, ingin melukis bunga anggrek. Dia mengetahui ada sekitar 30.000 jenis bunga anggrek di seluruh dunia. Tetapi, dari sekian banyak jenis anggrek itu, dia hanya akan melukis beberapa jenis saja. Kemudian, dia menunjukkan kepada Bapak daftar nama puluhan macam bunga anggrek, yakni Anggrek Bambu, Anggrek Bulan, Anggrek Buntut Bajing, Anggrek Congkok Kuning, Anggrek Gebeng, Anggrek Hitam, Anggrek Jambrut, Anggrek Janur, Anggrek Kalajengking, Anggrek Kancil, Anggrek Kasut Belang, Anggrek Kasut Berbulu, Anggrek Kasut Pita, Anggrek KembangGoyang, Anggrek Kepang, Anggrek Lau-Batu, Anggrek Lilin, Anggrek Loreng, Anggrek Mawar, Anggrek Merpati, Anggrek Mutiara, Anggrek Pandan, Anggrek Tanah Kuning, Anggrek Tebu, Anggrek Uncal, dan Anggrek Nan Tongga. Sebagian besar nama anggrek itu masih sangat asing bagi Bapak.

Bapak mengaku sejujurnya, sedikit sekali pengetahuannya mengenai bunga anggrek. Bapak tak menjamin, di hutan sekitar ini terdapat anggrek yang diinginkan Si Pelukis. Sambil tersenyum, Si Pelukis berkata, ”Seberapa adanya sajalah, Pak.”

Selama Si Pelukis dan Bapak mencari bunga anggrek di dalam hutan, Emak memasak di dangau. Gadis dan putra Si Pelukis duduk di tepi danau. Mereka ngobrol dengan seorang pemancing tua, sahabat Gadis. Si Pemancing telah berhasil mengail ikan gabus, lele, gurame, betok, dan mujair. Setelah itu, putra Si Pelukis mengajak Gadis duduk di bawah naungan batang rengas *) besar dan tinggi. Kedua orang muda itu saling menanyakan nama lengkap dan bertukar cerita.

”Namaku Kiagus Muhammad Gindo,” putra Si Pelukis menyebutkan nama lengkapnya. ”Panggil saja aku Gindo,” lanjutnya.

”Namaku Masayu Nurul Indahwati,” kata Gadis malu-malu. ”Biasanya, aku dipanggil Gadis,” ucapnya sambil melipat selembar kain belacu putih yang sedang disulamnya.

”Berapa banyak sarung bantal yang sudah Gadis sulam?” tanya Gindo.

”Lumayan,” jawab Gadis, ”Sulit aku menghitungnya. Sejak kecil aku sudah belajar menjahit dan menyulam pada Emak. Selain menyulam sarung bantal, aku menyulam hiasan dinding untuk pajangan, taplak meja, saputangan, tas kain, dan macam-macam lagi,” cerita Gadis.

”Kau hebat sekali,” puji Gindo.

”Ah, biasa saja,” ujar Gadis.

Gindo terkejut setelah mendengar cerita Gadis tentang kemampuannya membudidayakan ikan patin dan nila. Gadis akan meneliti ikan belida, dalam waktu dekat. Ternyata, Gadis bukanlah perawan dusun yang berpikir kuno dan tradisional. Gindo memberondong Gadis dengan berbagai pertanyaan tentang masa kecil dan masa kininya, tapi tidak berhasil mendapat jawaban sesuai kehendak hatinya. Gadis yang berwajah cantik dan tenang, pemilik mata sebening air danau, tak tak membuka pintu rahasia hatinya. Gindo menyimpulkan, selain pintar, rendah hati, Gadis berkarakter luhur. Gindo secara diam-diam mengagumi kecantikan dan kepribadian Gadis.

Waktu terus berlalu. Si Pelukis telah menyelesaikan lukisan bunga anggrek, satwa liar, danau, peladang, pemancing tua, dan mawar hutan. Terakhir, sebelum pamitan, dia minta izin kepada Bapak dan Emak untuk melukis Gadis dengan latar belakang danau dan kebun tembakau. Kata Bapak dan Emak, terserah pada Gadis. Mengejutkan sekali, Gadis menolak jadi model. Dia merasa tidak berminat dan tak berbakat. Dia juga malu, bila wajah dan tubuhnya diabadikan di kain kanvas, kemudian akan dipamerkan di hadapan para kolektor dan penggemar seni lukis di kota-kota besar. Si Pelukis tak putus asa. Dia membujuk Gadis dengan menawarkan sejumlah uang sebagai honorarium. Iming-iming itu tak mengubah pendirian Gadis.

”Maafkan aku, Pak Pelukis,” kata Gadis sopan. ”Bagaimana mungkin Gadis melakukan pekerjaan yang berbeda dengan kata hati? Bila gadis memaksakan diri menjadi model lukisan Bapak, aku yakin lukisan itu tidak akan berjiwa,” lanjutnya tegas, tapi sopan. Kata-kata Gadis, itu menambah kagum Gindo kepadanya. Di dalam hati, Gindo kurang setuju, Gadis menjadi model lukisan ayahnya. Tumbuh benih cemburu di hati pemuda kritis itu.

”Tak apa-apa kalau Gadis keberatan,” kata Si Pelukis. ”Aku tak hendak memaksa,” lanjutnya, berupaya menyembunyikan rasa kecewanya.

Gadis usul kepada Si Pelukis agar melukis sosok dirinya di dalam imajinasi, tetap berlatar belakang danau, atau ketika dirinya sedang memandang sekuntum mawar hutan. Lukisan berdasarkan imajinasi, kata Gadis mungkin akan lebih indah dan berjiwa dibanding yang natural. Si Pelukis tersentak. Dia tersindir. Dia sadar, dirinya bukanlah tukang gambar. Ali adalah seniman lukis, atau perupa berpengalaman, kata hatinya. Saran Gadis diterimanya dengan jiwa besar. Si Pelukis mengangguk-anggukkan kepala sambil menatap wajah Gadis yang ayu, lembut keibuan, dan selalu tampil alami. Bersahaja saja dia. Saat itu pula, Si Pelukis terkenang pada 0lga, istrinya yang sudah lama tiada.

***

Kehadiran Si Pelukis dan putranya beberapa tahun silam dikenang Gadis sambil menyulam di tepi danau. Senja kali ini bergerimis. Pelangi melengkung di seberang sana danau. Gadis membayangkan tujuh bidadari turun meniti pelangi. Para putri kayangan itu mandi berkecipung di air danau—yang kemerahan disinari matahari senja—semerah isi semangka. Pelangi dan bidadari pun menjadi inspirasi bagi Gadis untuk menyulam. Senja itu, Gadis menyulam sekuntum mawar hutan di selembar kain belacu putih. Dia sangat cemas apabila seluruh hutan dan ladang Bapak kelak menjadi lahan kebun kelapa sawit, tak akan ditemukan lagi mawar hutan. Itulah sebabnya Gadis mengabadikan mawar hutan di dalam beberapa sulaman untuk hiasan dinding. Salah satu sulaman bunga mawar hutan, khusus disediakannya untuk Gindo.

Ketika pamitan, dulu, Gindo mengatakan, awal tahun depan akan menemui Gadis di tepi danau. Sekian lama, Gadis setia menunggu, tapi Gindo tak kunjung datang. Penanggalan di dinding dangau telah diganti Bapak dengan kalender baru, Gindo belum juga datang. Gadis segera kembali ke kota, sehabis cuti tahunan, melanjutkan penelitian ikan belida untuk gelar S2-nya. Si pemancing tua, berjenggot putih, sahabat Gadis di tepi danau merasa sepi setelah Gadis pergi.

Gindo tak berniat melanggar janji kepada Gadis. Musibah telah menimpa Si Pelukis gaek, ayahnya. Jip yang dikendarainya masuk jurang, ketika meneruskan pengembaraan sendirian untuk melukis Bukit Barisan. Lelaki tua pemberani itu tewas di tempat kejadian. Gindo berhalangan menemani ayahnya karena sedang mengikuti ujian S2—jurusan ilmu komunikasi di ibu kota provinsi. Mengenai musibah itu, Gindo telah mengirim e-mail kepada Gadis. Pada bagian akhir e-mail itu, Gindo menulis:

”Gadis yang baik. Kini, aku sudah yatim piatu. 0lga, ibuku, yang asal Rusia meninggal 27 tahun lalu, setelah aku lahir. Ayah tidak pernah menikah lagi karena setia, dan sangat cinta pada Ibu. Bila rindu pada Ibu, Ayah ziarah ke makamnya berlama-lama. Aku janji, 40 hari setelah Ayah wafat, aku segera menemuimu di danau. Banyak yang ingin kukatakan kepadamu. Gadis, Ketahuilah, di dalam diriku sedang menguntum romansa merah jambu. Sampai di sini dulu, ya? Salam. Gindo selalu merindukanmu.” Pesan itu tak sampai karena laptop milik Gadis sedang mengalami error.

Di ujung tahun, Gindo menyetir jip tua peninggalan ayahnya menuju danau. Dia tercengang di depan pagar besi tinggi berkawat duri. Dirasakannya pagar yang menghadang itu sangat angkuh. Ladang dan hutan tak tampak lagi. Tanaman kelapa sawit muda setinggi lutut—terbentang di depannya seluas mata memandang. Danau makin sunyi. Pemancing tua entah berada di mana? Tak ada lagi pepohonan tinggi yang berdaun rimbun di sekitar danau itu. Gindo tidak diizinkan masuk lokasi perkebunan sawit oleh petugas keamanan berseragam hijau-loreng. Para petugas keamanan itu tidak dapat menjawab pertanyaan Gindo, ”Di mana Emak, Bapak, dan Gadis, setelah hutan, dan ladang mereka digusur?

(Mengenang Tanjung Serian, dusun Bapak, Kepur, dusun Emak, dan Tanjung Raman, dusun Taufik Kiemas—di tepi Sungai Lematang).

Villa Kalisari, Depok, 04 Juni 2010

*) Pohon yang kayunya merah, getahnya sangat tajam, dan gatal bila tersentuh, dapat menyebabkan kulit melepuh. Getahnya dapat dijadikan cat pernis atau minyak kayu. Buahnya mirip jeruk purut, warna cokelat, tak dapat dimakan.

Rabu, 17 November 2010

kiplik-seno gumira ajidharma

Kiplik sungguh mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng.
“Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya.

Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.

”Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, ”karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?”

Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air.

Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.

Namun, ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya, pembayangan yang bagaimanapun, betapapun masuk akalnya, tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan, dalam pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

”Dongeng itu hanyalah perlambang,” pikirnya, ”untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan didapatkan siapa pun yang berdoa dengan benar.”

Justru karena itu, semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapa pun yang ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. Adapun yang dimaksudnya berdoa dengan benar bukanlah sekadar kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat, melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar.

Kebahagiaan yang telah didapatkannya membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai, dan karena itulah kemudian ia pun selalu ingin membaginya. Setiap kali ia berhasil membagikan kekayaan itu, kebahagiaannya bertambah, sehingga semakin seringlah Kiplik menemui banyak orang dan mengajarinya cara berdoa yang benar.

Ternyata tidak sedikit pula orang percaya dan merasakan kebenaran pendapat Kiplik, bahwa dengan berdoa secara benar, bukan hanya karena cara-caranya, tetapi juga karena tahap kejiwaan yang dapat dicapai dengan itu, siapa pun akan mendapatkan ketenangan dan kemantapan yang lebih memungkinkan untuk mencapai kebahagiaan.

Demikianlah akhirnya Kiplik pun dikenal sebagai Guru Kiplik. Mereka yang telah mengalami bagaimana kebahagiaan itu dapat dicapai dengan berdoa secara benar, merasa sangat berterima kasih dan banyak di antaranya ingin mengikuti ke mana pun Kiplik pergi.

”Izinkan kami mengikutimu Guru, izinkanlah kami mengabdi kepadamu, agar kami dapat semakin mendalami dan menghayati bagaimana caranya berdoa secara benar,” kata mereka.

Namun, Guru Kiplik selalu menolaknya.

”Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan,” katanya, ”dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?”

Guru Kiplik bukan semacam manusia yang menganggap dirinya seorang nabi, yang begitu yakin bisa membawa pengikutnya masuk surga. Ia hanya seperti seseorang yang ingin membagikan kekayaan batinnya, dan akan merasa bahagia jika orang lain menjadi berbahagia karenanya.

Demikianlah Guru Kiplik semakin percaya, bahwa berdoa dengan cara yang benar adalah jalan mencapai kebahagiaan. Dari satu tempat ke tempat lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yang benar. Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar.

Sementara itu, kadang-kadang Guru Kiplik terpikir juga akan gagasan itu, bahwa mereka yang berdoa dengan benar akan bisa berjalan di atas air.

”Ah, itu hanya takhayul,” katanya kepada diri sendiri mengusir gagasan itu.

***

Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Begitu luasnya danau itu sehingga di tengahnya terdapatlah sebuah pulau. Ia telah mendengar bahwa di pulau tersebut terdapat orang-orang yang belum pernah meninggalkan pulau itu sama sekali. Guru Kiplik membayangkan, orang-orang itu tentunya kemungkinan besar belum mengetahui cara berdoa yang benar, karena tentunya siapa yang mengajarkannya? Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

”Danau seluas lautan,” pikirnya, ”apalagi yang masih bisa kukatakan?”

Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu, yang konon terletak tepat di tengah danau, benar-benar tepat di tengah, sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.

Tiadalah usah diceritakan betapa lama dan susah payah perjalanan yang ditempuh Guru Kiplik. Namun, akhirnya ia pun sampai juga ke pulau tersebut. Ternyatalah bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur begitu rupa, sehingga penghuninya tiada perlu berlayar ke mana pun jua agar dapat hidup. Bahkan, para penghuninya itu juga tidak ingin pergi ke mana pun meski sekadar hanya untuk melihat dunia. Tidak terdapat satu perahu pun di pulau itu.

”Jangan-jangan mereka pun mengira, bahwa dunia hanyalah sebatas pulau sebesar noktah di tengah danau seluas lautan ini,” pikir Guru Kiplik.

Namun, alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa!

”Tetapi sayang,” pikir Guru Kiplik, ”mereka berdoa dengan cara yang salah.”

Maka dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih sayang tiada terkira, Guru Kiplik pun mengajarkan kepada mereka cara berdoa yang benar.

Setelah beberapa saat lamanya, Guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yang salah itu.

Dengan segala kesalahan gerak maupun ucapan dalam cara berdoa yang salah tersebut, demikian pendapat Guru Kiplik, mereka justru seperti berdoa untuk memohon kutukan bagi diri mereka sendiri!

”Kasihan sekali jika mereka menjadi terkutuk karena cara berdoa yang salah,” pikir Guru Kiplik.

Sebenarnya cara berdoa yang diajarkan Guru Kiplik sederhana sekali, bahkan sebetulnya setiap kali mereka pun berhasil menirunya, tetapi ketika kemudian mereka berdoa tanpa tuntunan Guru Kiplik, selalu saja langsung salah lagi.

”Jangan-jangan setan sendirilah yang selalu menyesatkan mereka dengan cara berdoa yang salah itu,” pikir Guru Kiplik, lagi.

Guru Kiplik hampir-hampir saja merasa putus asa. Namun, setelah melalui masa kesabaran yang luar biasa, akhirnya sembilan orang itu berhasil juga berdoa dengan cara yang benar.

Saat itulah Guru Kiplik merasa sudah tiba waktunya untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya. Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.

”Syukurlah mereka terhindar dari kutukan yang tidak dengan sengaja mereka undang,” katanya kepada para awak perahu.

Pada saat waktu untuk berdoa tiba, Guru Kiplik pun berdoa di atas perahu dengan cara yang benar.

Baru saja selesai berdoa, salah satu dari awak perahunya berteriak.

”Guru! Lihat!”

Guru Kiplik pun menoleh ke arah yang ditunjuknya. Alangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air!

Guru Kiplik terpana, matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga. Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?

Sembilan orang penghuni pulau terpencil itu berlari cepat sekali di atas air, mendekati perahu sambil berteriak-teriak.

”Guru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa lagi bagaimana cara berdoa yang benar!”

Ubud, Oktober 2009 /
Kampung Utan, Agustus 2010.

pembongkar kuburan massal-veven sp wardhana

Malam demikian pekat, hujan begitu lebat ketika kami mendengar suara ayunan benda tajam yang menancap pada entah apa. Banyak yang menyangka itu berasal dari ladang Pak Runci, satu-satunya juru kunci kuburan massal di wilayah kami.
Malam yang gulita hanya bisa ditembus pandangan mata beberapa depa, sementara tumpahan hujan yang tercurah mengaburkan pendengaran penduduk—bahkan bagi yang tinggalnya terdekat dengan kuburan massal itu.

Ada yang mengira, yang terayun adalah mata cangkul yang menancap di tanah yang gembur, yang di baliknya teronggok umbi jalar atau ubi singkong. Ada yang menyangka, yang terayun adalah bilah celurit atau kelewang yang membabat batang jagung yang semakin ranum. Banyak—termasuk keluarga kami—yang sama-sama menafsirkan bahwa Pak Runci yang sudah berhari-hari sakit itu tak lagi kuat menahan lapar; dan jagung atau ubi atau umbi itu hendak diganjalkan ke dalam perutnya yang mungkin meronta pada malam yang begitu pekat dan hujan yang demikian lebat.

Beberapa hari ini beberapa sudut kuburan itu tak berpenerangan lampu minyak. Tak begitu ada yang memedulikan, memang, karena memang tak ada jalanan—termasuk jalanan setapak—yang melewati dekat-dekat lokasi pemakaman itu. Bukan karena kuburan itu dianggap angker, tapi bagi sebagian orang, mereka tak ingin mengenang dan membangkitkan masa lampau yang kelam yang menjadikan jatuh banyak korban dan kemudian secara massal dimakamkan.

Lampu minyak di ujung-ujung pemakaman yang dinyalakan saat menjelang senja menjadi penanda bahwa Pak Runci masih menjaga makam itu. Bisa dikatakan, Pak Runci adalah satu-satunya penduduk asli tertua yang masih tersisa, yang tak ikut menjadi korban, sementara penduduk lainnya—yang lolos sebagai korban—mulai meninggalkan wilayah untuk menata hidup baru di lain tempat atau bahkan memburu peruntungan ke negeri seberang.

Sama sekali Pak Runci tak pernah alpa menyalakan lampu minyak itu, kecuali jika dia jatuh sakit, yang tak memungkinkan dia berjalan menenteng lampu minyak untuk dipasang hingga ujung pemakaman. Maka, jika dalam hujan lebat dalam malam pekat itu Pak Runci mampu memangkas batang jagung atau menggali umbi, kami bersyukur karena artinya Pak Runci sudah sehat—dan esok senja ujung pemakaman itu tak lagi disungkup gelap yang pekat. Namun, senja esoknya—hingga malam dan kemudian pagi hari—kuburan itu tetap saja gelap dari ujung ke ujung. Juga malam kedua berikutnya. Apakah Pak Runci kehabisan minyak untuk menyalakan lampunya? Rasanya Pak Runci bukanlah sosok pemalu yang enggan meminta minyak pada kami—sebagaimana biasa dia lakukan jika kami alpa memasok minyak untuknya secara sukarela.

Jangan-jangan dia masih sakit atau sakitnya kian parah sehingga untuk meminta minyak pada kami tak bisa dia lakukan karena tubuhnya masih susah bangkit. Karena itu, pagi esoknya, kami—tak hanya keluarga kami, ternyata juga tetangga lain—menengok ke pondok Pak Runci, yang tak jauh dari gerbang pekuburan. Dia tampak lunglai di dipannya. Satu dua orang buru-buru mengambil makanan dan minuman dari rumahnya untuk disuapkan pada Pak Runci.

Pada malam yang pekat dalam hujan yang lebat beberapa hari lalu itu memang tak ada yang menebang jagung atau menggali umbi dan ubi. Kami tak melihat ada tanda-tanda batang jagung yang ditebang atau tanaman singkong dan umbi jalar yang dibongkar. Yang dibongkar justru sebuah kuburan. Itu ada di pojok pemakaman yang bersampingan dengan belukar. Seseorang dari kami yang berkeliling pemakaman melihatnya.

Lahat itu menganga terbuka. Tak lagi ada sosok mayat di dalamnya. Juga sama sekali tak ada kerangka.

”Diambil keluarganya,” ucap seseorang, Pak Runci, yang sudah berada di belakang kami. Pak Runci tampak bugar.

Kami saling pandang—tak paham.

”Dua-tiga malam yang lalu,” Pak Runci menambahkan. Tiga malam yang lalu: hujan luar biasa lebat, malam sangat pekat.

”Pak Runci tahu?” kami bertanya nyaris bersamaan.

”Tahu ada pembongkaran? Iya. Yang bersangkutan minta izin saya.”

”Pak Runci tahu kalau….”

”Tahu kalau itu keluarganya? Entahlah. Saya tak menghapal ratusan jenazah yang dimakamkan di sini. Kan semua sudah bergeletakan di banyak tempat. Kan waktu dimakamkan tak ada yang diminta mengenali satu per satu jenazah, karena wajahnya memang sudah bubrah—tak lagi dikenali.”

Jika Pak Runci tak termasuk yang merasa sangat kehilangan saat terjadi musibah, itu dikarenakan sejak dulu dia tak berkerabat dengan sesiapapun.

”Pak Runci tahu….”

”Tahu untuk apa kuburnya dibongkar? Tidak.”

”Maksud kami….”

”Mungkin keluarganya punya makam atau tanah di tempat lain yang dianggap lebih layak untuk mengubur,” Pak Runci memotong.

”Maksud kami, Pak Runci kenal keluarga yang membongkar makam itu?”

Pak Runci hanya bergumam.

Kami tak yakin apakah Pak Runci mengenal seorang demi seorang penduduk yang pernah tinggal—juga yang kemudian meninggalkan—perkampungan ini.

***

Malam tak begitu pekat. Beberapa lampu minyak membenderangi setiap sudut kuburan massal itu. Namun, tetap saja, hujan yang begitu lebat menutup jarak pandang kami. Mata kami memang sedang menatap mengamati arah pekuburan massal itu. Menurut Pak Runci, malam ini—beberapa hari setelah pembongkaran kuburan pada malam pekat hujan lebat itu—bakal datang entah siapa ke pemakaman. Tak diketahui pasti jamnya. Tak diketahui pasti untuk apa. Tak diketahui pasti, siapa seseorang itu.

”Bagaimana Pak Runci tahu?” saya bertanya.

”Nalurinya mengatakan. Begitu katanya. Entahlah,” suami saya menjawab.

Kami penasaran. Untuk apa kuburan—massal pula—kembali didedah, padahal yang dikubur tak pernah dikenali rincian wajah-wajahnya. Bukan saja tak dikenali karena telah dimakan waktu, tapi waktu dimakamkan pun wajah-wajah itu telah dicacah-cacah oleh musibah. Karenanya, alasan memindahkan kerangka ke tempat yang lebih layak, bagi kami—setidaknya bagi saya—sungguh tak masuk benak.

Tak hanya di ujung-ujung pemakaman dipasangi lampu minyak. Di setiap ujung gang dan perempatan jalan, juga di antaranya, kami pasang pula lentera. Dengan penerangan lentera dan lampu minyak, setiap jengkal jalanan di hadapan dan sekitaran rumah-rumah kami, juga jalanan menuju pekuburan, akan menampak siapa saja yang bahkan lewat selintasan ke pekuburan. Namun, begitu hujan menderas, dan kami masuk ke dalam rumah, pindah dari teras karena menghindari percik air hujan yang menempias, kami jadi gagal mengamati kalau-kalau ada yang mendatangi pekuburan itu.

Hingga menjelang fajar, hujan masih membilas-bilas. Pelupuk mata kami mulai terkatup digelayuti kantuk. Kami rasa, tak ada yang mendatangi pekuburan massal itu yang kemudian membongkar salah satu sudutnya. Kami salah, ternyata. Begitu hujan mulai mereda dan matahari membiaskan cahayanya, kami dengar suara teriakan entah siapa dari arah pekuburan. Ada tiga lubang penggalian yang letaknya berjauhan dari pembongkaran pertama. Jenazah—mungkin kerangka, mungkin sekadar serbuk yang sudah berbaur tanah—tak lagi ada di dalamnya.

Tampaknya, penggalian itu dilakukan saat kami disungkup rasa kantuk ketika menjelang fajar itu. Rasa kantuk itu telah membuat telinga kami tak lagi peka untuk mendengar suara-suara ayunan cangkul yang beradu dengan tanah yang dibongkar.

Naluri Pak Runci terbukti.

Atau bukan naluri, melainkan benar-benar ada seseorang yang memberitahunya, meminta izin, sebagaimana kejadian pertama pada malam tanpa lentera dan hujan yang mendera-dera itu.

”Jika benar ada yang mendatangi Pak Runci, berarti Pak Runci membohongi kita,” ujar suami saya, yang juga menjadi ujaran penduduk lainnya.

”Tapi, apa untungnya Pak Runci berbohong?” suami saya bergumam, terkesan membantah kesimpulannya sendiri.

”Lagian, tak ada yang mengharuskan Pak Runci untuk melapor ke kita,” timpal saya pada suami saya saat kami makan malam.

”Lebih tepatnya, tak ada yang dirugikan di kampung kita ini karena dibongkarnya kuburan itu,” saya menambahkan.

”Juga hilangnya kerangka-kerangka itu,” suami saya menegaskan.

Gemuruh guntur di langit menghentikan percakapan kami. Kami buru-buru merapatkan daun pintu dan jendela karena hujan mendadak tumpah. Saya—juga suami saya—tak sempat menengok memastikan apakah lampu minyak sudah dipasang Pak Runci di segenap sudut pemakaman. Kalaupun lentera sempat kami pasang di depan rumah dan di setiap perempatan, pastilah akan segera susut, meredup, diguyur air hujan yang makin menderas, untuk kemudian padam.

Saya dan suami mencoba mencungkil-cungkil ingatan, apakah Pak Runci sempat memberitahu bahwa malam ini akan datang seseorang atau beberapa orang entah siapa hendak membongkar pemakaman massal. Namun, pemberitahuan Pak Runci—jika ada—tak lagi begitu penting, karena esoknya, setelah hujan yang terguyur sepanjang malam itu mereda, kami menemukan jawabannya, yakni: belasan kuburan dibongkar dan kerangka yang ada di dalamnya tak lagi ada di tempatnya.

”Saya setengah lupa setengah ingat mereka yang datang menggali kubur itu. Mereka adalah penduduk sini juga yang pindah rumah setelah musibah,” ungkap Pak Runci setelah kami mendesaknya agar memberikan keterangan. Kami, termasuk yang seharusnya sudah sampai di tempat kerja, pagi itu mendatangi pondok Pak Runci.

”Kata mereka, mereka hendak membuktikan bahwa kerabat mereka benar-benar meninggal. Suaminya tewas, istrinya wafat, orangtuanya—ayahnya atau ibunya atau dua-duanya—tak lagi bernyawa,” sangat panjang Pak Runci menjelaskan.

”Membuktikan pada siapa?” seseorang bertanya.

”Pada aturan di wilayah mereka berburu mata pencaharian. Mereka tak bisa menunjukkan bukti tertulis bahwa istri atau suaminya benar-benar meninggal.”

”Akta atau pencatatan kematian maksudnya?” Seseorang mencoba mempertegas.

”Dengan kepastian status mereka, janda atau duda, atau sebatangkara, mereka berhak mendapatkan santunan di wilayah tetangga,” Pak Runci tak menggubris pertanyaan.

”Lha, kan, semua surat-surat itu, termasuk akta tanah segala, ikut lebur dihancurkan musibah?” Seseorang tadi kembali mempertegas arah pembicaraan.

***

Senja jatuh di perbatasan. Banyak orang berbaris mengantre hendak melewati perbatasan yang ditandai oleh selarik garis itu. Wajah-wajah mereka lusuh karena lelah berjalan seharian dan semalaman. Mereka meninggalkan pemakaman massal pada dinihari usai menggali lahat yang diperkirakan sebagai tempat kerabatnya dikuburkan. Mereka bopong jenazah yang sesungguhnya sudah menjadi kerangka itu ke suatu tempat yang menyediakan peti jenazah. Setelah kerangka itu dimasukkan ke dalam peti, mereka menyeret peti itu menuju perbatasan. Seretan peti itu meninggalkan jejak berupa garis-garis bercak di sepanjang jalan yang mereka lewati, termasuk ketika kemudian menyeberangi sungai dan melintasi ngarai.

Sebelum benar-benar memasuki pintu-pintu gerbang yang dideret-deretkan di tembok yang memanjang dari pangkal ke tepian, ada berderet palang pintu yang dibuat dari bambu, yang dijaga para petugas. Mereka ini mencatat sosok-sosok yang menyeret peti mati itu, juga mencatati isi peti mati setelah terlebih dulu mereka membuka peti-peti itu. Setelah itu, para penjaga itu memberi selembar kertas kepada para penyeret peti mati itu. Lembaran kertas itulah yang dijadikan penanda bahwa pemegangnya diperbolehkan melewati gerbang yang dideretkan di tembok yang memanjang.

Begitu menerima lembaran kertas, rata-rata penerimanya langsung melonjak lega sebelum kemudian buru-buru menuju deretan gerbang. Di balik tembok yang memanjang itu, sekalipun dari kejauhan sudah tampak kilauan cahaya bauksit, mangan, perak, juga emas. Peti mati yang mereka seret sepanjang siang sepanjang malam itu begitu saja mereka tinggalkan di hadapan para penjaga. Memang, para penjaga itu akan melemparkan peti-peti dan isinya itu ke tubir jurang yang menganga di hadapan mereka ketika malam merayap perlahan.

****

Saya tiba di perbatasan juga pada saat matahari makin temaram. Saya rasa, bahkan sinar matahari tak pernah mampir di perbatasan ini. Udara cenderung menggigilkan.

”Nama?” tanya penjaga palang perbatasan begitu saya mendekati garis batas.

Saya sebutkan nama saya.

”Bukti apa hendak kamu sampaikan?” kata penjaga sambil membuka buku catatan.

”Saya seorang janda,” ujar saya.

”Buktinya apa?”

Saya mengerling ke peti yang saya seret semalaman hingga seharian. Penjaga itu memeriksa isi peti. Saya lihat wajahnya terperangah.

”Ini mayat baru?” katanya.

Saya mengiyakan. ”Beberapa hari lalu.”

”Ini bukan jenazah dari pemakaman!” penjaga itu membentak saya. Dia segera memberi isyarat kepada penjaga lain, yang segera meringkus saya dan melemparkan saya sejauh-jauhnya.

”Tapi saya janda. Saya punya hak mendapatkan santunan,” saya tersengal. Napas saya sesak.

”Santunan hanya untuk janda yang suaminya menjadi korban musibah. Atau anak-anak piatu, juga yatim, yang orangtuanya menjadi korban musibah. Kamu, bahkan kamu tak punya kerabat yang menjadi korban musibah. Juga suamimu.”

Benar. Penjaga itu tak salah ucap. Benar. Sejak beberapa hari lalu, semua jenazah, semua kerangka di kuburan massal sudah habis dibongkar. Karena itu, diam-diam saya asah ketajaman pedang sebelum kemudian saya hunus untuk saya tancapkan ke jantung suami saya setelah sebelumnya menerobos dan merontokkan tulang rusuknya.

Sangat ingin saya menjadi janda.***

Kupang, 06 Mei 2010;
Jakarta, 05 Juli 2010